Definisi
Asuhan ibu postpartum adalah suatu bentuk manajemen kesehatan yang
dilakukan pada ibu nifas di masyarakat. Pemberian asuhan secara menyeluruh,
tidak hanya kepada ibu nifas, akan tetapi pemberian asuhan melibatkan seluruh keluarga
dan anggota masyarakat disekitaranya.
B. Jadwal Kunjungan Rumah
Ibu
nifas sebaiknya paling sedikit melakukan 4 kali kunjungan masa nifas, dilakukan
untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi
dan menangani masalah–masalah yang terjadi. Dimana hal ini dilakukan untuk
menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik, melaksanakan
skirining yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila
terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya, memberikan pendidikan kesehatan
tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui,
pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat, serta memberikan
pelayanan keluarga berencana.
Namun dalam pelaksanaan
kunjungan masa nifas sangat jarang terwujud dikarenakan oleh beberapa faktor
diantaranya yaitu faktor fisik dan lingkungan ibu yang biasanya ibu mengalami
keletihan setelah proses persalinan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk
beristirahat, sehingga mereka enggan untuk melakukan kunjungan nifas kecuali
bila tenaga kesehatan dalam hal ini bidan yang melakukan pertolongan persalinan
datang melakukan kunjungan ke rumah ibu. Dilihat dari faktor lingkungan dan
keluarga juga berpengaruh dimana biasanya ibu setelah melahirkan tidak
dianjurkan untuk berpergian sendiri tanpa ada yang menemani sehingga ibu
memiliki kesulitan untuk menyesuaikan waktu dengan anggota keluarga yang
bersedia untuk mengantar ibu melakukan kunjungan nifas.
Asuhan post partum di rumah difokuskan pada pengkajian, penyuluhan dan
konseling. Dalam memberikan asuhan kebidanan di rumah bidan dan keluarga
diupayakan dapat berinteraksi dalam suasana yang respek dan kekeluargaan.
Tantangan yang dihadapi bidan dalam melakukan pengkajian dan peningkatan perawatan
pada ibu dan bayi di rumah pada pelaksanaannya bisa cukup umur, sehingga bidan
akan memberi banyak kesempatan untuk menggunakan keahlian berpikir secara
kritis untuk meningkatkan suatu pikiran kreatif perawatan bersama
keluarga.Perencanaan Kunjungan Rumah merupakan wewenang dan tanggung jawab bidan untuk melaksanakan kompetensi dan
keterampilan memberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu
meliputi :
1.
Merencanakan kunjungan rumah dalam waktu tidak lebih dari 24-48
jam setelah kepulangan klien ke rumah guna untuk memantau keadaan umum
ibu meliputi tanda-tanda vital ibu, observasi perdarahan dan kontraksi uterus
serta memantau keadaan bayi dan mulai mengajari ibu untuk menyusui bayinya.
2.
Pastikan keluarga telah mengetahui rencana mengenai kunjungan
rumah dan waktu
3.
kunjungan bidan ke rumah telah direncanakan bersama anggota
keluarga.
4.
Menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan.
Keamanan merupakan hal yang harus dipikirkan oleh bidan. Tindakan
kewaspadaan ini dapat meliputi:
1.
Mengetahui dengan jelas alamat yang lengkap arah rumah klien.
2.
Gambar rute alamat klien dengan peta sebelum berangkat perhatikan
keadaan disekitar lingkungan rumah klien.
3.
Beritahu rekan kerja anda ketika anda pergi untuk kunjungan.
4.
Beri kabar kepada rekan anda segera setelah kunjungan selesai.
Kesehatan ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam
kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi oleh
kesehatan ibu. Apabila ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat yang
akan menjadi generasi kuat. Ibu yang sehat juga menciptakan keluarga sehat dan
bahagia. Jadwal kunjungan rumah
paling sedikit dilakukan 4x, yaitu diantaranya :
1.
Kunjungan 1 (6-8 jam setelah persalinan)
Kunjungan pertama dilakukan setelah 6-8 jam setelah persalinan,
jika memang ibu melahirkan dirumahnya. Kunjungan dilakukan karena untuk jam-jam
pertama pasca persalinan keadaan ibu masih rawan dan perlu mendapatkan
perawatan serta perhatian ekstra dari bidan, karena 60% ibu meninggal pada saat
masa nifas dan 50% meninggal pada saat 24 jam pasca persalinan Kunjungan
pertama meliputi :
a.
Pemberian ASI : bidan mendorong pasien untuk memberikan ASI secara
eksklusif, cara menyatukan mulut bayi dengan putting susu, merubah-rubah
posisi, mengetahui cara memeras ASI dengan tangan seperlunya, atau dengan
metode-metode untuk mencegah nyeri putting dan perawatan putting susu.
b.
Perdarahan : bidan mengkaji warna dan banyaknya atau jumlah
yang semestinya, adakah tanda-tanda perdarahan yang berlebihan, yaitu: nadi
cepat dan suhu naik, uterus tidak keras dan TFU menaik,kaji pasien apakah bisa
memasase uterus dan ajari cara memasase uterus agar uterus bisa mengeras.
Periksa pembalut untuk memastikan tidak ada darah berlebihan.
c.
Involusi uterus : bidan mengkaji involusi uterus dan beri
penjelasan pada pasien mengenai involusi uterus.
d.
Pembahasan tentang kelahiran : kaji perasaan ibu dan adakah pertanyaan
tentang proses tersebut.
e.
Bidan memberikan penyuluhan mengenai tanda-tanda bahaya baik bagi
ibu maupun bayi dan rencana menghadapi keadaan darurat.
2.
Kunjungan 2 (6 hari setelah persalinan)
Kunjungan kedua dilakukan setelah enam hari pasca persalinan
dimana ibu sudah bisa melakukan aktivitasnya sehari-hari seperti sedia kala.
Kunjungan kedua meliputi :
a. Diet : bidan memberikan
informasi tentang makanan yang seimbang,
seperti :
1) Kalori
Penambahan kalori sepanjang 3 bulan pertama post partum mencapai
750-800 Kkal jika laktasi berlangsung lebih dari 3 bulan, selama itu pula berat
badan ibu akan menurun yang berarti jumlah kalori tambahan harus ditingkatkan agar
produksi ASI seimbang untuk bayi. Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung
kalori seperti : daging sapi, ayam, buah-buahan.
2) Protein
Selama menyusui ibu memerlukan tambahan protein diatas kebutuhan
normal yaitu 50gram/hari.
Contoh makanan yang
mengandung protein yaitu :
Ikan salmon, telur,
kentang, daging, kacang-kacangan”produk kedelai, tahu, tempe, buncis dan
lain-lain.
3) Asam Lemak
Makanan yang mengandung asam lemak Omega 3 yang terdapat dalam
ikan kakap dan tongkol, Asam ini diubah menjadi DHA yang dikeluarkan melalui
ASI berfungsi sebagai nutrisi pematangan sel otak bayi.
4) Kalsium
Banyak terdapat pada susu, keju, teri dan kacang-kacangan yang
dikeluarkan melalui ASI berfungsi membantu perkembangan tulang bayi. Kebutuhan
kalsium perhari selama masa laktasi adalan 0,5-1gram/hari.
5) Zat Besi
Banyak terkandung pada sayur-sayuran hijau tua seperti bayam, daun
ubi kayu, daun katuk yang berfungsi untuk mencegah anemia pada ibu dimasa
menyusui dan memperlancar produksi ASI, dibutuhkan 20gram zat besi/hari.
6) Asam folat
Banyak terkandung pada jeruk, alvokad, asparagus,roti gandum yang
berfungsi untuk membantu perkembangan/pertumbuhan otak bayi melalui ASI yang diminumnya.
7) Vit. C
Banyak terdapat pada buah-buahan yang berwarna kuning kemerahan
seperti wortel, tomat, jeruk, mangga,sirsak, apel yang berfungsi sebagai anti
oksidan dan dapat membantu perkembangan otak bayi serta sebagai pembantu
absorbsi zat besi didalam tubuh.
8) Cairan dan mineral
Kebutuhan cairan yang harus dikonsumsi ibu sebanyak 3 liter/hari
dengan asumsi 1 liter setiap 8jam dalam beberapa kali minum terutama setelah
selesai menyusui.
Selama menyusui ibu sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi banyak
sayuran dan buahan yang mengandung serat seperti : papaya, pisang, bayam,
kangkung dll agar ibu terhindar dari konstipasi dan berguna untuk menambah
produksi ASI ibu.
b. Kebersihan atau
perawatan diri sendiri
Bidan menganjurkan pasien untuk menjaga kebersihan diri, terutama
putting susu dan perineum karena sangat sering terjadi infeksi pada bagian
perineum jika hyginie ibu kurang dan terjadi lecet pada putting sehingga bisa
menyebabkan peradangan pada putting susu jika ibu tidak dapat merawat putting
susu nya dengan baik.
c. Senam
Bidan mengajarkan senam kegel serta senam perut yang ringan
tergatung pada kondisi ibu dan tingkat diastasis. Senam ini bertujuan untuk
mengembalikan kekencangan otot-otot abdomen dan otot panggul serta membantu
memperlancar peredaran darah ibu dan lebih menyehatkan ibu selama masa nifas.
d. Kebutuhan akan
istirahat.
Bidan menganjurkan pasien untuk cukup tidur ketika bayi sedang
tidur, meminta bantuan anggota keluarga untuk mengurus pekerjaan rumah tangga.
e. Bidan mengkaji adanya
tanda-tanda post partum blues seperti : ibu tidak peduli dengan bayinya, ibu
menyendiri, terlihat seperti cemas, menangis tiba-tiba dan ibu kehilangan nafsu
makan, status emosional ibu tidak stabil, perasaan takut dan lelah.
f. Keluarga berencana
Pembicaraan awal tentang kembalinya masa subur dan melanjutkan
hubungan seksual setelah selesai masa nifas, kebutuhan akan pengendalian
kehamilan dan penjelasan mengenai metode kontrasepsi seperti Metode Amenorea
Laktasi selama 6 bulan post partum.
g. Tanda-tanda bahaya
Bidan memberitahu kapan dan bagaimana menghubungi bidan jika ada
tanda-tanda bahaya seperti : perdarahan abnormal, sakit kepala berat, pandangan
kabur, kaku kuduk, nyeri abdomen bagian
bawah, pengeluaran lochea yang abnormal, oedema pada kaki/tangan, demam, muntah
serta rasa sakit saat BAK & BAB, payudaraa bengkak, anoreksia dalam waktu
yang lama, merasa letih dan nafas sesak, kejang. misalnya pada ibu dengan
riwayat pre-eklamsi atau resiko eklamsia memerlukan penekanan pada tanda-tanda
bahaya dari pre-eklamsi atau eklamsia.
h. Perjanjian untuk
pertemuan berikutnya.
Jelaskan kepada ibu bahwa akan ada kunjungan ulang oleh bidan agar
terjadi kesepakatan antara pasien dan bidan.
C. Manajemen Post Partum
Asuhan ibu postpartum adalah asuhan yang
diberikan pada ibu segera setelah kelahiran, sampai 6 minggu setelah kelahiran.
1.
Tujuan
Adapun tujuannya yaitu untuk memberikan asuhan yang adekuat dan
terstandar pada ibu segera setelah melahirkan dengan memperhatikan riwayat
selama kehamilan dalam persalinan dan keadaan segera setelah melahirkan agar
terlaksananya asuhan segera atau rutin pada ibu post partum.
2.
Pengkajian atau Pengumpulan data
Didasarkan pada data subjektif daan juga Objektif. Data subjektif
yaitu data yang didapatkan langsung daari pasien atau Pasien atau keluarganya
langsung yang berbicara. Sedangkan data Objektif adalah data yang dihasilkan
dari hasil pemeriksaan bidan atau tenaga kesehatan.
a.
Melakukan pengkajian dgn mengumpulkan semua data yang dibutuhkan
untuk mengevaluasi keadaan ibu.
b.
Melakukan pemeriksaan awal post partum.
c.
Meninjau catatan/ record pasien.
d.
Menanyakan riwayat kesehatan & keluhan ibu.
3.
Menginterpretasikan Data.
Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah adalah diagnosa
berdasarkan interpretasi yangg benar atas data yg telah dikumpulkan. Diagnosa,
masalah dan kebutuhan ibu postpartum tergantung dari hasil pengkajian terhadap
ibu.
4.
Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan
terjadi berdasarkan masalah atau diagnosa yang sudah diidentifikasi dan
merencanakan antisipasi tindakan.
5.
Menetapkan Tindakan Segera
Mengidentifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh
bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan
anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi pasien.
6.
Membuat Rencana Asuhan
Yaitu dengan Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai
dengan temuan dari langkah sebelumnya.
7.
Implementasi Asuhan
Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan
aman daripada rencana asuhan tadi.
8.
Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, ulangi
kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah
dilaksanakan tetapi belum efektif atau merencanakan kembali asuhan yang belum
terlaksana jika masih ada.Bidan harus melakukan evaluasi secara terus menerus
selama masa nifas. Evaluasi secara terus menerus meliputi:
a.
Meninjau ulang data
b.
Mengkaji riwayat
c.
Pemeriksaan fisik
D. Post Partum Group
Di dalam melaksanakan asuhan pada ibu
post partum di komunitas salah satunya adalah dalam bentuk kelompok. Ibu post
partum dikelompokkan dengan mempertimbangkan jarak antara satu orang ibu post
partum dengan ibu post partum lainnya .Kegiatan dapat dilaksanakan di salah
satu rumah ibu post partum/ posyandu dan polindes. Kegiatannya dapat
berupa penyuluhan dan konseling.tentang :
1.
Kebersihan diri
2.
Istirahat
3.
Gizi
4.
Menyusui
5.
Lochea
6.
Involusi uterus
7.
Senggama
Cara dukungan untuk mengatasi postpartum dari kelompok pendukung
postpartum :
1.
Cara pendekatan komunikasi terapeutik yang tujuannya untuk
menciptakan hubungan baik antara bidan dan juga pasien dalam rangka
kesembuhannya dengan cara :
2.
Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi
a.
Dapat memahami dirinya.
b.
Dapat mendukung tindakan konstruktif.
3.
Cara peningkatan support mental post partum dapat dilakukan
keluarga misalnya :
a.
Sekali-kali ibu meminta suami untuk ikut membantu dalam
mengerjakan pekerjaan rumah seperti membantu mengurus bayinya, memasak,
menyiapkan susu, dll.
b.
Memanggil orang tua ibu bayi agar bisa menemani ibu dalam menghadapi kesibukan merawat bayinya.
c.
Suami seharusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya dan
lebih perhatian terhadap istrinya.
d.
Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertama yang akan lahir.
e.
Memperbanyak dukungan dari suami.
f.
Suami menggantikan peran istri saat istri kelelahan.
g.
Ibu dianjurkan untuk sering sharing dengan teman-temannya yang
baru saja melahirkan.
h.
Bayi memakai pampers untuk meringankan kerja ibu.
i.
Mengganti suasana dengan bersosialisasi..
j.
Suami sering menemani istri dalam mengurus bayinya.
Selain hal diatas dukungan post partum dari dirinya sendiri
diantaranya dengan cara :
1.
Belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi.
2.
Tidurlah ketika bayi tidur.
3.
Berolahraga ringan.
4.
Ikhlas dan tulus dengan peran baru ssebagai ibu.
5.
Tidak perfectsionis dalam hal mengurus bayi,
6.
Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan.
7.
Bersikap fleksibel.
8.
Kesempatan merawat bayinya hanya datang satu kali.
9.
Bergabung dengan kelompok ibu.
Kelompok
postpartum merupakan salah satu bentuk kelompok atau organisasi kecil dari ibu
nifas. Bertujuan untuk mendeteksi, mencegah, dan mengatasi permasalahan-permasalahan
yang timbul masa nifas. Di dalam melaksanakan asuhan pada ibu postpartum di
komunitas, salah satunya adalah dalam bentuk kelompok. Ibu-ibu postpartum
dikelompokkan dengan mempertimbangkan jarak antara satu orang ibu postpartum
dengan ibu postpartum lainnya.



0 komentar:
Posting Komentar