Minggu, 01 Juni 2014

ASUHAN POSTPARTUM


    Definisi
       Asuhan ibu postpartum adalah suatu bentuk manajemen kesehatan yang dilakukan pada ibu nifas di masyarakat. Pemberian asuhan secara menyeluruh, tidak hanya kepada ibu nifas, akan tetapi pemberian asuhan melibatkan seluruh keluarga dan anggota masyarakat disekitaranya.
B.     Jadwal Kunjungan  Rumah
       Ibu nifas sebaiknya paling sedikit melakukan 4 kali kunjungan masa nifas, dilakukan untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah–masalah yang terjadi. Dimana hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik, melaksanakan skirining yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya, memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat, serta memberikan pelayanan keluarga berencana.
Namun dalam pelaksanaan kunjungan masa nifas sangat jarang terwujud dikarenakan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu faktor fisik dan lingkungan ibu yang biasanya ibu mengalami keletihan setelah proses persalinan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beristirahat, sehingga mereka enggan untuk melakukan kunjungan nifas kecuali bila tenaga kesehatan dalam hal ini bidan yang melakukan pertolongan persalinan datang melakukan kunjungan ke rumah ibu. Dilihat dari faktor lingkungan dan keluarga juga berpengaruh dimana biasanya ibu setelah melahirkan tidak dianjurkan untuk berpergian sendiri tanpa ada yang menemani sehingga ibu memiliki kesulitan untuk menyesuaikan waktu dengan anggota keluarga yang bersedia untuk mengantar ibu melakukan kunjungan nifas.
       Asuhan post partum di rumah difokuskan pada pengkajian, penyuluhan dan konseling. Dalam memberikan asuhan kebidanan di rumah bidan dan keluarga diupayakan dapat berinteraksi dalam suasana yang respek dan kekeluargaan. Tantangan yang dihadapi bidan dalam melakukan pengkajian dan peningkatan perawatan pada ibu dan bayi di rumah pada pelaksanaannya bisa cukup umur, sehingga bidan akan memberi banyak kesempatan untuk menggunakan keahlian berpikir secara kritis untuk meningkatkan suatu pikiran kreatif perawatan bersama keluarga.Perencanaan Kunjungan Rumah merupakan wewenang dan tanggung jawab  bidan untuk melaksanakan kompetensi dan keterampilan memberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu meliputi :
1.     Merencanakan kunjungan rumah dalam waktu tidak lebih dari 24-48 jam setelah   kepulangan klien ke rumah guna untuk memantau keadaan umum ibu meliputi tanda-tanda vital ibu, observasi perdarahan dan kontraksi uterus serta memantau keadaan bayi dan mulai mengajari ibu untuk menyusui bayinya.
2.     Pastikan keluarga telah mengetahui rencana mengenai kunjungan rumah dan waktu 
3.     kunjungan bidan ke rumah telah direncanakan bersama anggota keluarga.
4.     Menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan.
Keamanan merupakan hal yang harus dipikirkan oleh bidan. Tindakan kewaspadaan ini dapat meliputi:
1.     Mengetahui dengan jelas alamat yang lengkap arah rumah klien.
2.     Gambar rute alamat klien dengan peta sebelum berangkat perhatikan keadaan disekitar lingkungan rumah klien.
3.     Beritahu rekan kerja anda ketika anda pergi untuk kunjungan.
4.     Beri kabar kepada rekan anda segera setelah kunjungan selesai.
Kesehatan ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Apabila ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat yang akan menjadi generasi kuat. Ibu yang sehat juga menciptakan keluarga sehat dan bahagia. Jadwal kunjungan rumah paling sedikit dilakukan 4x, yaitu diantaranya :
1.     Kunjungan 1 (6-8 jam setelah persalinan)
Kunjungan pertama dilakukan setelah 6-8 jam setelah persalinan, jika memang ibu melahirkan dirumahnya. Kunjungan dilakukan karena untuk jam-jam pertama pasca persalinan keadaan ibu masih rawan dan perlu mendapatkan perawatan serta perhatian ekstra dari bidan, karena 60% ibu meninggal pada saat masa nifas dan 50% meninggal pada saat 24 jam pasca persalinan Kunjungan pertama meliputi :
a.     Pemberian ASI : bidan mendorong pasien untuk memberikan ASI secara eksklusif, cara menyatukan mulut bayi dengan putting susu, merubah-rubah posisi, mengetahui cara memeras ASI dengan tangan seperlunya, atau dengan metode-metode untuk mencegah nyeri putting dan perawatan putting susu.
b.      Perdarahan : bidan mengkaji warna dan banyaknya atau jumlah yang semestinya, adakah tanda-tanda perdarahan yang berlebihan, yaitu: nadi cepat dan suhu naik, uterus tidak keras dan TFU menaik,kaji pasien apakah bisa memasase uterus dan ajari cara memasase uterus agar uterus bisa mengeras. Periksa pembalut untuk memastikan tidak ada darah berlebihan.
c.     Involusi uterus : bidan mengkaji involusi uterus dan beri penjelasan pada pasien mengenai involusi uterus.
d.     Pembahasan tentang kelahiran : kaji perasaan ibu dan adakah pertanyaan tentang proses tersebut.
e.     Bidan memberikan penyuluhan mengenai tanda-tanda bahaya baik bagi ibu maupun bayi dan rencana menghadapi keadaan darurat.

2.     Kunjungan 2 (6 hari setelah persalinan)
Kunjungan kedua dilakukan setelah enam hari pasca persalinan dimana ibu sudah bisa melakukan aktivitasnya sehari-hari seperti sedia kala. Kunjungan kedua meliputi :
a.    Diet : bidan memberikan informasi tentang makanan yang seimbang,      seperti :
1)   Kalori
Penambahan kalori sepanjang 3 bulan pertama post partum mencapai 750-800 Kkal jika laktasi berlangsung lebih dari 3 bulan, selama itu pula berat badan ibu akan menurun yang berarti jumlah kalori tambahan harus ditingkatkan agar produksi ASI seimbang untuk bayi. Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung kalori seperti : daging sapi, ayam, buah-buahan.
2)   Protein
Selama menyusui ibu memerlukan tambahan protein diatas kebutuhan normal yaitu 50gram/hari.
Contoh makanan yang mengandung protein yaitu :
Ikan salmon, telur, kentang, daging, kacang-kacangan”produk kedelai, tahu, tempe, buncis dan lain-lain.
3)   Asam Lemak
Makanan yang mengandung asam lemak Omega 3 yang terdapat dalam ikan kakap dan tongkol, Asam ini diubah menjadi DHA yang dikeluarkan melalui ASI berfungsi sebagai nutrisi pematangan sel otak bayi.
4)   Kalsium
Banyak terdapat pada susu, keju, teri dan kacang-kacangan yang dikeluarkan melalui ASI berfungsi membantu perkembangan tulang bayi. Kebutuhan kalsium perhari selama masa laktasi adalan 0,5-1gram/hari.
5)   Zat Besi
Banyak terkandung pada sayur-sayuran hijau tua seperti bayam, daun ubi kayu, daun katuk yang berfungsi untuk mencegah anemia pada ibu dimasa menyusui dan memperlancar produksi ASI, dibutuhkan 20gram zat besi/hari.
6)   Asam folat
Banyak terkandung pada jeruk, alvokad, asparagus,roti gandum yang berfungsi untuk membantu perkembangan/pertumbuhan  otak bayi melalui ASI yang diminumnya.
7)   Vit. C
Banyak terdapat pada buah-buahan yang berwarna kuning kemerahan seperti wortel, tomat, jeruk, mangga,sirsak, apel yang berfungsi sebagai anti oksidan dan dapat membantu perkembangan otak bayi serta sebagai pembantu absorbsi zat besi didalam tubuh.
8)   Cairan dan mineral
Kebutuhan cairan yang harus dikonsumsi ibu sebanyak 3 liter/hari dengan asumsi 1 liter setiap 8jam dalam beberapa kali minum terutama setelah selesai menyusui.
Selama menyusui ibu sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi banyak sayuran dan buahan yang mengandung serat seperti : papaya, pisang, bayam, kangkung dll agar ibu terhindar dari konstipasi dan berguna untuk menambah produksi ASI ibu.
b.    Kebersihan atau perawatan diri sendiri
Bidan menganjurkan pasien untuk menjaga kebersihan diri, terutama putting susu dan perineum karena sangat sering terjadi infeksi pada bagian perineum jika hyginie ibu kurang dan terjadi lecet pada putting sehingga bisa menyebabkan peradangan pada putting susu jika ibu tidak dapat merawat putting susu nya dengan baik.

c.    Senam
Bidan mengajarkan senam kegel serta senam perut yang ringan tergatung pada kondisi ibu dan tingkat diastasis. Senam ini bertujuan untuk mengembalikan kekencangan otot-otot abdomen dan otot panggul serta membantu memperlancar peredaran darah ibu dan lebih menyehatkan ibu selama masa nifas.
d.   Kebutuhan akan istirahat.
Bidan menganjurkan pasien untuk cukup tidur ketika bayi sedang tidur, meminta bantuan anggota keluarga untuk mengurus pekerjaan rumah tangga.
e.    Bidan mengkaji adanya tanda-tanda post partum blues seperti : ibu tidak peduli dengan bayinya, ibu menyendiri, terlihat seperti cemas, menangis tiba-tiba dan ibu kehilangan nafsu makan, status emosional ibu tidak stabil, perasaan takut dan lelah.
f.     Keluarga berencana
Pembicaraan awal tentang kembalinya masa subur dan melanjutkan hubungan seksual setelah selesai masa nifas, kebutuhan akan pengendalian kehamilan dan penjelasan mengenai metode kontrasepsi seperti Metode Amenorea Laktasi selama 6 bulan post partum.
g.    Tanda-tanda bahaya
Bidan memberitahu kapan dan bagaimana menghubungi bidan jika ada tanda-tanda bahaya seperti : perdarahan abnormal, sakit kepala berat, pandangan kabur, kaku kuduk,  nyeri abdomen bagian bawah, pengeluaran lochea yang abnormal, oedema pada kaki/tangan, demam, muntah serta rasa sakit saat BAK & BAB, payudaraa bengkak, anoreksia dalam waktu yang lama, merasa letih dan nafas sesak, kejang. misalnya pada ibu dengan riwayat pre-eklamsi atau resiko eklamsia memerlukan penekanan pada tanda-tanda bahaya dari pre-eklamsi atau eklamsia.
h.    Perjanjian untuk pertemuan berikutnya.
Jelaskan kepada ibu bahwa akan ada kunjungan ulang oleh bidan agar terjadi kesepakatan antara pasien dan bidan.
C.    Manajemen Post Partum
Asuhan ibu postpartum adalah asuhan yang diberikan pada ibu segera setelah kelahiran, sampai 6 minggu setelah kelahiran.
1.      Tujuan
Adapun tujuannya yaitu untuk memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada ibu segera setelah melahirkan dengan memperhatikan riwayat selama kehamilan dalam persalinan dan keadaan segera setelah melahirkan agar terlaksananya asuhan segera atau rutin pada ibu post partum.
2.      Pengkajian atau Pengumpulan data
Didasarkan pada data subjektif daan juga Objektif. Data subjektif yaitu data yang didapatkan langsung daari pasien atau Pasien atau keluarganya langsung yang berbicara. Sedangkan data Objektif adalah data yang dihasilkan dari hasil pemeriksaan bidan atau tenaga kesehatan.
a.      Melakukan pengkajian dgn mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan ibu.
b.      Melakukan pemeriksaan awal post partum.
c.      Meninjau catatan/ record pasien.
d.      Menanyakan riwayat kesehatan & keluhan ibu.
3.      Menginterpretasikan Data.
Melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah adalah diagnosa berdasarkan interpretasi yangg benar atas data yg telah dikumpulkan. Diagnosa, masalah dan kebutuhan ibu postpartum tergantung dari hasil pengkajian terhadap ibu.
4.      Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi berdasarkan masalah atau diagnosa yang sudah diidentifikasi dan merencanakan antisipasi tindakan.
5.      Menetapkan Tindakan Segera
Mengidentifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi pasien.
6.      Membuat Rencana Asuhan
Yaitu dengan Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai dengan temuan dari langkah sebelumnya.
7.      Implementasi Asuhan
Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman daripada rencana asuhan tadi.
8.      Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, ulangi kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tetapi belum efektif atau merencanakan kembali asuhan yang belum terlaksana jika masih ada.Bidan harus melakukan evaluasi secara terus menerus selama masa nifas. Evaluasi secara terus menerus meliputi:
a.      Meninjau ulang data
b.      Mengkaji riwayat
c.      Pemeriksaan fisik

D.    Post Partum Group
       Di dalam melaksanakan asuhan pada ibu post partum di komunitas salah satunya adalah dalam bentuk kelompok. Ibu post partum dikelompokkan dengan mempertimbangkan jarak antara satu orang ibu post partum dengan ibu post partum lainnya .Kegiatan dapat dilaksanakan di salah satu rumah ibu post partum/ posyandu dan polindes. Kegiatannya dapat berupa penyuluhan dan konseling.tentang :
1.     Kebersihan diri
2.     Istirahat
3.     Gizi
4.     Menyusui
5.     Lochea
6.     Involusi uterus
7.     Senggama
Cara dukungan untuk mengatasi postpartum dari kelompok pendukung postpartum :
1.     Cara pendekatan komunikasi terapeutik yang tujuannya untuk menciptakan hubungan baik antara bidan dan juga pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara : 
2.     Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi
a.     Dapat memahami dirinya.
b.     Dapat mendukung tindakan konstruktif.
3.     Cara peningkatan support mental post partum dapat dilakukan keluarga misalnya :
a.     Sekali-kali ibu meminta suami untuk ikut membantu dalam mengerjakan pekerjaan  rumah seperti membantu mengurus bayinya, memasak, menyiapkan susu, dll.
b.     Memanggil orang tua ibu bayi agar bisa menemani ibu dalam  menghadapi kesibukan merawat bayinya.
c.     Suami seharusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya dan lebih perhatian terhadap istrinya.
d.     Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertama yang akan lahir.
e.     Memperbanyak dukungan dari suami.
f.      Suami menggantikan peran istri saat istri kelelahan.
g.     Ibu dianjurkan untuk sering sharing dengan teman-temannya yang baru saja melahirkan.
h.     Bayi memakai pampers untuk meringankan kerja ibu.
i.      Mengganti suasana dengan bersosialisasi..
j.      Suami sering menemani istri dalam mengurus bayinya.
Selain hal diatas dukungan post partum dari dirinya sendiri diantaranya dengan cara :
1.     Belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi.
2.     Tidurlah ketika bayi tidur.
3.     Berolahraga ringan.
4.     Ikhlas dan tulus dengan peran baru ssebagai ibu.
5.     Tidak perfectsionis dalam hal mengurus bayi,
6.     Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan.
7.     Bersikap fleksibel.
8.     Kesempatan merawat bayinya hanya datang satu kali.
9.     Bergabung dengan kelompok ibu.
                                Kelompok postpartum merupakan salah satu bentuk kelompok atau organisasi kecil dari ibu nifas. Bertujuan untuk mendeteksi, mencegah, dan mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul masa nifas. Di dalam melaksanakan asuhan pada ibu postpartum di komunitas, salah satunya adalah dalam bentuk kelompok. Ibu-ibu postpartum dikelompokkan dengan mempertimbangkan jarak antara satu orang ibu postpartum dengan ibu postpartum lainnya. 


0 komentar:

Posting Komentar