Minggu, 01 Juni 2014

ASUHAN BAYI DAN BALITA


A. Pengertian Perawatan Kesehatan pada Bayi 
Pemeliharaan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada bayi dan anak balita dengan penekanan pada upaya peningkatan kesehatan (promotif) dan preventif serta pengobatan sebagai pertolongan pertama dan upaya pemulihan kesehatan ke sarana kesehatan. Bayi adalah anak yang berumur 0 sampai sesaat sebelum ulang tahun pertama.
Setelah bayi lahir, bidan segera memeriksa bayi yang lahir untuk rnengetahui apakah ada kelainan atau cacat bawaan.
1.      Tanda-tanda bayi baru lahir normal
Bayi baru lahir normal memiliki tanda-tanda sebagai berikut:
a.    Berat badan antara 2500 - 4000 gram
b.    Lingkar kepala 31- 35 cm, kepala simetris
c.    Refleks menghisap positif
d.   Lingkaran perut lebih besar dan lingkaran dada, perut lembek dan bundar
e.    Alat kelamin tidak ada kelainan
f.     Mekonium (+)
g.    Anggota gerak tidak ada kelainan dan lengkap
h.    Kulit tertutup verniks kaseosa (lapisan lemak) mungkin mengelupas
i.      Dahi dan punggung tertutup oleh bulu-bulu halus
j.      Refleks more (+)
k.    Ukuran antropometrk normal
2.      Asuhan segera pada bayi baru lahir
Setelah dilakukan pemeriksaan pada bayi baru lahir, jika tidak ditemukan adanya kelainan, maka bayi ditetapkan (diagnose) lahir dengan keadaan normal. Dalam rencana dan langkah asuhan dilakukan urutan sebagai berikut:
a.       Membersihkan rongga hidung dan mulut dengan kapas steni atau penghisap lendir dan karet (De lee)
b.      Mengeringkan bayi dan air ketuban
c.       Meletakkan bayi diatas perut ibu
d.      Memotong tali pusat
e.       Mengelus telapak kaki, dada, perut dare punggung, bila bayi tidak menangis
f.       Menilai APGAR skor pada satu menit pertama untuk menentukan ada tidaknya asfiksia
g.      Membersihkan bayi dan lapisan lemak yang berlebihan
h.      Memberi salep mata tetrasiklin atau larutan nitro argenti 1% pada kedua mata bayi
3.      Perawatan rutin
Ajarkan orang tua cara merawat bayi mereka dan perawatan harian untuk bayi bayi baru lahir.
a.    Beri ASI sesuai dengan kebutuhan setiap 2-3 jam (paling sedikit setiap 4 jam), mulai dari pertama
b.    Pertahankan agar bayi selalu dengan ibu
c.    Jaga bayi dalam keadaan bersih, hangat dan kering, dengan mengganti popok dan selimut sesuai dengan keperluan. Pastikan bayi tidak terlalu panas atau terlalu dingin (dapat menyebabkan dehidrasi, ingat bahwa pengaturan suhu bayi masih dalam perkembangan). Apa saja yang dimasukkan ke dalam mulut bayi harus selalu bersih
d.   Jaga tali pusat dalam keadaan bersih dan kering
e.    Peganglah, sayangi dan nikmati kehidupan bersama bayi
f.     Awasi masalah dan kesulitan pada bayi dan minta bantuan jika perlu
g.    Jaga keamanan bayi terhadap trauma dan penyakit/infeksi
h.    Ukur suhu tubuh bayi, jika bayi tampak sakit atau menyusu kurang
4.      Cara memandikan bayi
Tujuannya adalah untuk membersihkan bayi dan menguatkan peredaran darah. Sebelumnya terlebih dahulu disiapkan alat untuk memandikan bayi sebagai berikut:
a.     Menyiapkan ember yang berisi air hangat dan bersih
b.    Tempat meletakkan bayi (meja atau tempat tidur)
c.     Handuk
d.    Pakaian bayi : baju, popok dan kain bedung Sabun bayi
e.     Lap mini
f.     Kapas lidi
g.    Ember (tempat kain kotor)
h.    Air steril (aquadest)
i.      Dan lain lain
                         Cara memandikan bayi
a.    Mencuci tangan dengan sabun
b.    Membentangkan handuk di atas meja
c.    Melepaskan pakaian bayi dan pakaian bayi tersebut dimasukkan ke tempat kain kotor
d.   Memeriksa hidung, telinga, mata, apakah ada kotoran dan tanda-tanda infeksi
e.    Membersihkan liang telinga dengan kapas lidi basah dengan air steril
f.     Mencuci muka bayi dengan lap mini yang dibasahi dengan air hangat
g.    Membersihkan kepala, leher, dada, tangan, punggung, tungkai, dubur dan kemaluan dengan sabun
h.    Membersihkan lemak pada ketiak dan lipatan papa dengan lembut
i.      Bayi dimandikan di dalam ember berisi air hangat
j.      Bayi diangkat dan kepala bayi berada di atas pergelangan tangan bagian dalam dan empat jari tangan kiri ditempatkan di ketiak kiri dan jempol pada bahu kiri bayi
k.    Tangan kanan diletakkan di bawah pantat bayi
l.      Tangan kanan digunakan untuk membersihkan seluruh tubuh bayi dengan sabun. Tubuh yang dibersihkan mulai dari ketiak sampai kaki
m.  Mata dan telinga dijaga agar tidak masuk air
n.    Posisi bayi ditengkurapkan
o.    Punggung bayi dibersihkan
p.    Setelah semua badan bayi bersih, bayi diangkat dari ember
q.    Mengeringkan tubuh bayi dengan handuk
r.     Memakaikan popok bayi
s.     Menjemur bayi di terik matahari pagi 10 – 15 menit
t.     Menstabilkan suhu tubuh bayi, kemudian baru memasang baju dan bedung bayi
5.      Perawatan Tali Pusat
a.    Pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena udara dan tutupi dengan kain bersih secara longgar
b.    Lipatlah popok di bawah tali pusat
c.    Jika tali pusat terkena kotoran atau tinja, cuci dengan sabun dan air bersih, dan keringkan
6.      Tanda bahaya
    1. Pernapasan sulit atau > 60 kali per menit, lihatlah retraksi pada waktu bernapas
    2. Suhu teria!u panas > 38°C atau terlalu dingin < 36°C
    3. Warna abnormal, kulit/bibir biru (sianosis), atau pucat, memar atau bayi sangat kuning (terutama 24 jam pertama)
    4. Pemberian ASI (sulit, hisapan lemah, mengantuk berlebihan, banyak muntah)
    5. Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, bau busuk, berdarah
    6. Gangguan gastrointestinal misalnya tidak mengeluarkan mekonium selama 3 hari pertama berturut-turut setelah lahir, muntah terus menerus, tinja berdarah atau bertendir
    7. Tidak berkemih dalam 24 jam
    8. Menggigil,atau tangis tidak biasa, lemas, mengantuk, lunglai, kejang, tidak bisa tenang, menangis terus menerus
    9. Mata bengkak dan mengeluarkan cairan
    10. Cari pertolongan bidan atau tenaga medis jika timbul tanda-tanda bahaya
  1. Perawatan Kesehatan Anak Balita
Salah satu upaya untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian anak balita adalah dengan melakukan pemeliharaan kesehatannya. Bidan yang bekerja di komunitas melakukan kegiatan pelayanan kesehatan anak balita di rumah (keluarga), Puskesmas/Puskesmas pembantu, Posyandu, Polindes dan Taman Kanak-kanak.
1.    Pelayanan kesehatan pada anak balita
a.    Pemeriksaan kesehatan anak balita secara berkala
b.    Penyuluhan pada orang tua, menyangkut perbaikan gizi, kesehatan lingkungan, pengawasan tumbuh kembang anak
c.    Imunisasi dan upaya pencegahan penyakit lainnya
d.   Identifikasi tanda kelainan dan penyakit yang mungkin timbul pada bayi dan cara menanggulanginya
2. Kunjungan anak balita
Bidan berkewajiban mengunjungi bayi yang ditolongnya atupun yang ditolong oleh dukun di bawah pengawasan bidan di rumah.
a.    Kunjungan ini dilakukan pada minggu pertama setelah persalinan. Untuk selanjutnya bayi bisa dibawa ke tempat bidan bekerja
b.    Anak berumur sampai 5 bulan diperiksa setiap bulan
c.    Kemudian pemeriksaan dilakukan setiap 2 bulan sampai anak berumur 12 bulan
d.   Setelah itu pemeriksaan dilakukan setiap 6 bulan sampai anak bet umur 24 bulan
e.    Selanjutnya pemeriksaan dilakukan satu kali se-tahun.
Kegiatan yang dilakukan pada kunjungan balita antara lain:
a.    Pemeriksaan fisik anak ditakukan termasuk penimbangan berat badan
b.    Penyuluhan atau nasehat pada ibu tentang pemeliharaan kesehatan anak dan perbaikan gizi serta hubungan psiko sosial antar anak, ibu dan keluarga. Ibu diminta memperhatikan tumbuh kembang anak, pola makan dan tidur serta perkembangan prilaku dan sosial anak.
c.    Penjelasan tentang Keluarga Berencana
d.   Dokumentasi pelayanan
3. Pemeriksaan kesehatan anak balita
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengetahui keadaan umum anak
a.       Bagaimana postur tubuhnya, kurus atau gemuk?
b.      Apakah dalam keadaan tenang? Mengantuk atau gelisah?
c.       Bagaimana kondisi psikologis anak, marah, cengeng atau ramah?
d.      Bagaimana kondisi kulit anak?
e.       Apakah sesak napas atau tidak?
f.       Bagaimanan kondisi matanya, cekung, ada kotoran, warna konjungtiva?
g.      Bagaimana kesan pertumbuhan anak? Apakah sesuai antara berat badan, tinggi badan, dan perkembangan mentalnya?
      Beberapa hal yang perlu dilakukan pada pemeriksaan fisik adalah sebagai berikut:
a.         Anak diperiksa dalam keadaan tanpa pakalan kecuali popok atau celana dalam
b.         Bila anak gelisah, pemeriksaan dilakukan di atas pangkuan ibu
c.         Ibu diminta membantu proses pemeriksaan agar berjalan lancar
d.        Berikan pengertian pada anak yang sudah besar dan mengerti tentang pemeriksaan
e.         Denyut nadi, suhu napas jangan lupa diperiksa
  1. Pemantauan Tumbuh Kembang Bayi dan Balita/Deteksi Dini
Dalam upaya menurunkan masalah tumbuh kembang seorang anak harus dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin, yakni sejak pembuahan, janin di dalam kandungan ibu, pada saat persalinan sampai dengan masa-masa kritis proses tumbuh kembang manusia yaitu masa di bawah usia lima tahun.
1.      Deteksi dini tumbuh kembang Balita
Merupakan upaya penjaringan yang dilaksanakan secara komprehensif untuk menemukan penyimpangan tumbuh kembang dan mengetahui serta mengenal faktor risiko (fisik, biomedik,psikososial) pada balita.
2.      Kegunaan deteksi dini tumbuh kembang Balita
Kegunaannya adalah untuk mengetahui penyimpangan tumbuh kembang balita secara dini, sehingga upaya pencegahan, upaya stimulasi dan upaya penyembuhan serta pemulihan dapat diberikan dengan indikasi yang jelas sedini mungkin pada masa-masa kritis proses tumbuh kembang. Upaya-upaya tersebut diberikan sesuai dengan umur perkembangan anak, dengan demikian dapat tercapai kondisi tumbuh kembang yang optimal.
3.      Pelaksanaan deteksi dini
Upaya deteksi dini dilaksanakan oleh tenaga professional, kader dan orang tua atau anggota keluarga lainnya yang mampu dan terampil dalam melakasanakan deteksi dini. Kegiatan ini dapat dilakukan di pusat-pusat pelayanan kesehatan, di posyandu, di sekolah-sekolah dan dilingkungan rumah tangga.
4.      Alat untuk melakukan deteksi dini
Alat untuk deteksi dini berupa tes skrining yang telah distandardisasi untuk menjaring anak yang mempunyai kelainan dari mereka yang norma.
Macam-macam tes skrining yang digunakan adalah :
a.       Berat badan menurut umur
b.      Pengukuran lingkaran kepala anak
c.       Denver Development Screening Test (DDST)
d.      Kuisioner perilaku Anak Prasekolah (KPAP)
e.       Tinggi/panjang badan (TB) terhadap umur
Jadwal Kegiatan Deteksi Dini
No
Kelompok Umur
Jadwal Deteksi Dini
1
Bayi
-     Pada bayi umur 0 – 28 hari
-     Pada bayi 1 – 11 bulan, deteksi dini dilakukan saat umur 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan
2
Anak balita
Deteksi dini dilakukan setiap 6 bulan, yaitu umur 12 bulan, 18 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan, 42 bulan, 48 bulan, dan 54 bulan
3
Anak prasekolah
Deteksi dini dilakukan setiap 6 bulan, yaitu umur 48 bulan, 54 bulan, 60 bulan, 66 bulan dan 72 bulan
Deteksi dini tumbuh kembang anak / balita adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan atau masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik(anatomi) dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak) sel-sel tubuh dan juga karena bertambah besarnya sel, jadi pertumbuhan lebih ditekankan pada pertambahan ukuran fisik seseorang yaitu menjadi lebih besar atau lebih matang bentuknya, seperti pertambahan ukuran beratbadan, tinggi badan, dan lingkar kepala.(IDAI, 2002).
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat (Depkes RI, 2005).
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dari struktur / fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirakan, dan diramalkan sebagai hasil dari proses diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ – organ dan sistemnya yang terorganisasi (IDAI, 2002)
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialasi dan kemandirian (Depkes RI, 2005).
            Cara deteksi tumbuh kembang anak
5.      Mendeteksi tumbuh kembang pada anak diantaranya :
a.      Pengukuran antropometri
Pengukuran antropometri ini dapat meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan , lingkar kepala dan lingkar lengan atas.
b.      Pengukuran berat badan
Pengukuran berat badan ini bagian dari antropometri yang digunakan untuk menilai hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yg ada pada tubuh.
c.      Pengukuran tinggi badan
Pengukuran ini merupakan bagian dari pengukuran antropometrik yang digunakan untuk menilai status perbaikan gizi di samping factor genetik
6.      Pertumbuhan dan perkembangan anak :
    1. Anak pada usia 3-6 bulan mengangkat kepala dengan tegak pada posisi telungkup.
    2. Anak pada usia 9-12 bulan berjalan dengan berpegangan.
    3. Anak pada usia 12-18 bulan minum sendiri dari gelas tanpa tumpah.
    4. Anak pada usia 18-24 bulan mencorat-coret dengan alat tulis.
    5. Anak pada usia 2-3 tahun berdiri dengan satu kaki tanpa berpegangan, melepas pakaian sendiri
    6. Anak pada usia 3-4 tahun mengenal dan menyebutkan paling sedikit 1 warna.
    7. Anak pada usia 4-5 tahun mencuci dan mengeringkan tangan tanpa bantuan (Depkes RI, 2005).
7.      Tujuan DDTK
    1. Sebagai upaya untuk menjaga dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak baik fisik, mental dan sosial.
    2. Menegakkan diagnosis dini setiap kelainan tumbuh kembang.
    3. Kemungkinan penanganan yang efektif.
    4. Mencari penyebab dan mencegahnya.
8.      Ciri-ciri tumbuh kembang anak / balita
a.       Perkembangan menimbulkan perubahan
Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan misal, perkembangan intelgensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya setiap anak tidak akan bisa melewati tahapan sebelumnya misal, seorang anak tidak bias berdiri jika pertumbuhan kaki dan tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat karena perkembangan awal merupakn masa kritis untuk menentukan perkembangan selanjutnya
b.      Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda baik perkembangan fisik maupun fungsi organ
c.       Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.
d.      Perkembangan mempunyai pola yang tetap
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut 2 hukum:
1)        Perkembangan terjadi dahulu di daerah kepala kemudian menuju arah anggota tubuh.
2)        Perkembangan antropometri terjadi lebih dahulu di daerah proksima l (gerak kasar) lalu berkembng ke bagin distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimosdital).
e.       Perkembangan memiliki tahap yan berurutan
Misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak anak mampu berdiri sebelum berjalan.(Depkes, 2005 : 4).
  1. Immunisasi
1.     Defenisi
Immunisasi adalah upaya yang dilakukan untuk memperoleh kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit tertentu. Proses Immunisasi ialah memasukkan vaksin atau serum ke dalam tubuh manusia, melalui oral atau suntikan. Tubuh dirangsang untuk membentuk antibody yang dapat memproduksi anti toksin. Kehadiran anti toksin dapat menetralisir toksin yang dikeluarkan oleh kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh manusia.
2.         Kebijakan Immunisasi
a.    Jangkauan pelayanan ditingkatkan
b.    Semua Puskesmas dan Pustu memberikan pelayanan Immunisasi
c.    Skrining secara ketat dilaksanakan untuk menghindarkan hilangnya kesempatan Immunisasi.
d.   Pelaksanaan program dilakukan secara steril digunakan untuk tiap suntikan
e.    Satu jarum dan satu syaringe steril digunakan untuk tiap suntikan
f.     Penyuluhan dilakukan untuk menunjang program
g.    Dampak program terhadap penyakit yang dapat diatasi melalui Immunisasi
h.    Pemantauan kegiatan Immunisasi secara lintas sektor dan lintas program
3.         Jadwal Immunisasi Dasar Bayi
Umur
Jenis Immunisasi
0 – 7 hari
 Hb Unijec
1 bulan
BCG, POLIO1
2 bulan
Hepatitis B2, DPT1, Polio 1
3 bulan
Hepatitis B3, DPT2, Polio2
4 bulan
DPT3, Polio 3
9 bulan
Campak, Polio4
4.         Beberapa imunisasi yang diberikan pada bayi dan balita :
a.                 BCG         
Untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit TBC. Bayi berumur 0-11 bulan, tapi dengan dosis 0,05 cc. Vaksinasi diulang pada umur 5 tahun. Diberikan secara intracutan pada lengan kanan keatas. Penyuntikan secara intradermal yang benar akan menimbulkan ulkus lokal yang supervialal 3 minggu setelah penyuntikan, ulkus yong biasu tertutup krusta akan sembuh dalam 2-3 bulan dan meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm. Apabila dosis terlalu tinggi maka ulkus yang timbul semakain besar, namun apabila penyutikan terlalu dalam, parut yang terjadi tertarik ke dalam.
b.    DPT
            Untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tatanus. Pada bayi 2-11 bulan, sebanyak 3 kali suntikan dengan selang waktu 4 minggu secara IM di paha bagian atas dengan dosis 0,5 cc. Imunisasi ulang lainnya dlberikan umur 1,5-2 tahun, kemudian pada usia 6-8 tahun dan 10 tahun. Kemerahan, bengkak, dan nyeri pada lokasi injeksi, terjadi pada kira-kira separuh penderita. Proporsi yang sama juga akan menderita demam ringan dan 1% dapat hiperperiksia. Anak sering gelisah, dan menangis terus menerus selama beberapa jam pasca penyuntikan
c.    Hepatitis B
            Untuk mendapatkan kekebalan terhadap virus hepatitis. Pada usia 0-1 bulan, dianjurkan pad usia 0-7 hari. Kemudian pada usia 2-3 bulan. Diberikan secara IM di paha bayi dengan dosis 0,5 cc Efek samping yang terjadi biasanya ringan, berupa nyeri, panas, mual nyeri sendi dan otot
d.                Polio
Untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis . Pada bayi umur 2-3 bulan, diberikan sebanyak 3 kali pemberian dengan dosis 2 tetes dengan interval 4 minggu. Pemberian ulang pada umur 1,5 - 2 tahun dan menjelang umur 5 tahun. Setelah vaksinasi sebagian kecil resipen dapat mengalami gejala-gejala pusing, diare ringan, dan otot
e.                 Campak
Untuk mendapatkan, kekebalan terhadap penyakit. Umur 9-11 bulan dengan 1 kali pemberian, dengan dosis 0,5 cc secara subkutan di lengan kiri. Di laporkan setelah vaksinasi MMR (measies mumps, dan ruballa) dapat terjadi malaise demam atau ruam sering terjadi 1 minggu setelah imunisasi dapat terjadi kejang demam ensefalitas pasca imunisasi dan pembengkakan kelenjar parutis pada minggu ke - 3

1 komentar:

ffgfg mengatakan...

artikelnya menarik dan mudah di pahami oleh para pembaca, serta bermanfaat bagi yang lagi cari artikel seperti ini,thanks penulis.di klik juga ya Artikel kesehatan terbaru

Posting Komentar