Epilepsi merupakan kelainan Neurologik, dimana
pada ibu hamil merupakan tata laksana yang yang adekuat dan tanpa beresiko baik
terhadap ibu / bayi resiko pada waita epilepsi yang hamil lebih besar dari pada
pda normal yang hamil. Untuk banyak mengulangi resiko, maka dokter ahli
neurology bekerja sama agar bayi dan ibu mengalami kesehatan jasmani dan
rohani. Angka kematian neonatus pada epilepsi yang hamil adalah tiga kali
dibanding populasi normal.
Pengaruh kehamilan terhadap epilepsi berparisi
kira-kira ¼ kasus prekuensi bangkitan akan meningkat terutama pada trimester
terakhir, ¼ lagi menurun dan separuhnya lagi tidak mengalami perubahan selama
kehamilan. Pengobatan wanita epilepsi yang hamil pada umumnya dilakuakn menurut
prinsif yang sama seperti pada pasien tidak hamil.
Resiko yang dialami janin karena bangkitan yang
dialami oleh ibu mungkin sama besar dengan yang disebabkan obat anti epilepsy.
Mal formasi yang disebabkan epilepsi akan terjadi pada 4-8 minggu pertama dalam
pertumbuhan janin
EPILEPSI PADA KEHAMILAN
I. Efek kehamilan terhadap epilepsi
Epilepsy pada kehamilan dibagi menjadi dua
kelompok :
a. Yang
sebelumnya sudah menderita epilepsi
b. Berkembng
menjadi epilepsy selama kehamilan wanita-wanita yang mendapat bangkitan selama
masa produksi dapat terjadi secara isidentil pada kehamilan.
Hormone berpengaruh terhadap bangkitan pada ibu
yang epilepsy yang hamil adalah estrogen dan estrogen dan progesteron.
Pada seorang wanita yang hamil kadar estrogen
dlam darah menurun, sehingga merangsang aktifitas enzim asam glutamate
dekarboksilase dank arena itu sintesa Gamma Amino Butiric Acit (GABA) akan
menurun dalam otak, dengan menurunnya konsentrasi GABA otak akan merangsang
bangkitnya epilepsy.
Pada kehamilan akan terjadi hemodelusi dengan
akibat filtrasi glomelurus berkurang sehingga terjadi retensi cairan serta
edema, akibatnya kadar obat dalam plasma akan menurun. Retensi cairan yang
terjadi menyebabkan Hiponatremi. Keadaan ini akan menimbulkan gangguan parsial
dari “Sodium PUM” yang mengakibatkan peninggian eksitabilitas neuron dan
mempersentasikan bangkitan.
Pada wanita epilepsy yang hamil sangat sulit
untuk menduga terjadinya bangkitan. Karena penomena ini tidak berhubungan
dengan tipe vbangkitan.
Penderita epilepsy terjadinya suatu bangkitan
sangat berbahaya baik untuk ibu maupun jantung akibat trauma yang timbul.
Persalinan akibat bangkitan yang timbul.
Pasien-pasien dengan epilepsy yang berat kemungkinan akan bertambah buruk dan
kadar obat anti epilepsy yang diminum tidak sesuai. Pada wanita yang hamil
volume plasma meningkat kira-kira sepertinya pada trimester 3, hal ini
disebabkan oleh efek dilusi.
Penemuan dan angka penurunan dari konsetrasi
obat epilepsy berbeda bentuk setiap jenis obat penurunan kadar obat dalam darah
untuk fenilion kira-kira 80% terjadi pada trimester 1 juga serupa dengan
venobarbital untuk karbamazepin terbesar penurunannya pada trimester 3.
Pada wanita hamil pada bangkitan dan telah mendapat
obat anti epilepsy maka pemeriksaan yang perlu dilakukan yaitu :
1. Pemeriksaan
kadar obat dalam darah
2. EEG
3. CT scan, bila
ada kelainan neurologik, dilakukan tergantung pada stadium kehamilan.
Perubahan-perubahan konsentrasi obat anti
epilepsy secara teratur harus di monitor setiap bulan.
II. Komplikasi Kehamilan
Wanita epilepsy lebih cenderung memperoleh
komplikasi obstetric dalam masa kehamilan dari pada wanita penduduk rata-rata
pengaruh epilepsy terhadap kehamilan yaitu :
a.
Memelihara bayi premature, didapat 4-11 %
b. BBLR kurang
dari 2500 grditemukan pada 7-10 %
c.
Mikrosefali
d. Afgar Skor
yang rendah
III.
Komplikasi Persalinan
Neonatus wanita epilepsy yang hamil mengalami
lebih banyak resiko karena kesukara dialami ketika perslainan berjalan. Partus
premature lebih sering terjadi pada wanita epilepsy.
Penggunaan obat epilepsy mengakibatkan kontrasi
uterus melemah. Rupture membrane yang terlalu dini. Oleh karena itu maka
persalinan epilepsy hamper selalu harus dipimpin oleh pakar obstetric.
Pengggunaan forsep / vakum sering dilakukan dan juga SC.
Komplikasi Persalinan
·
Frekuensi pembangkitan meningkat 33%
·
Perdarahan post partum meningkat 10 %
·
Bayi mempunyai resiko berkembang menjadi epilepsy
·
Apabila tanpa profilaksis vitamin K yang diberikan pada ibu terdapat 1% terjadi
perdarahan perinatal pada bayi.
IV.
Pengobatan / tatalaksana
Seorang wanita epilepsy yang merencanakan untuk
hamil selalu khawatir terhadap janin, kehamilan / perkembangna dan perawatan
bayi. Hal ini membutuhkan pengawasan khusus baik sebelum dan selamahamil dan
penyuluhan prekonsepsi haruslah berupa bagian yang penting untuk mencegah dan
persiapan.
V. Obat-obatan Anti Epilepsi
Penelitian pada binatang telah terbukti bahwa
semua obat-obatan anti epillepsi adalah bersifat teratogenik dan dihubungkan
dengan kadar obat anti epilepsy misalnya fenitopi, berakibat malformasi pada
tikus tergantung pada jenis tikus dan dosis yang diberikan. Salah satu bentuk
malformasi yang terbanyak tampak pada epilepsy.
Umumnya obat anti epilepsy yang digunakan
adalah :
-
Fenitoni
-
Karbamezepi
- Dan
stadium valproat
Dihubungkan dengan mal formasi congenital minor
seperti wajah dismorfik dan hipoplasia menghalang distal.
Trimatodio dihubungkan dengan abnormalitas
berat dan fenobarbital adalah obat anti epilepsy yang paling rendah
tosisitasnya.
VI. Obat-obatan
tersebut adalah
1. Trimetadion
Dapat mengakibatkan kelainan pada janin yang
sepsifik disebut sindrom trimetodio fetus.
Terdapat resiko tinggi pada sindrom ini yang
mana dapat menyebabkan perkembangna yang lambat, anemia kroniofasila dan kelainan
jantung bawaan, golongan obat ini digunakan pada kehamilan.
2. Feitoni
Obat ini digunakan sangat luas seagai obat anti
epilepsy pada kelainan dan mempunyai efek teratogenik.
Terdapat kejadian sedikit yang menyebabkan
pasien-pasien diobati dengan beberapa obat epilepsy, sehingga sulit
mengevaluasi efek obat secara individual. Penggunaan dapat mengakibatkan
terjadi sindrom hidatonia fetus.
Dimana epilepsy pada ibu hamil diberikan obat
fenitolin biasanya dikombinasi dengan venobarbital.
Sindrom ini terdiri dari abnormalitas
kraniofasila, reterdasi mental baik ringan / sedang. Dosis fenitoin antara
150-600 mg /hari.
3. Sindrom
Valproal
Obat ini relative baru dan sedikit data yang
berefek pada uteru.
Penggunaan obat ini dapat mengakibatkan kelainan
pada janin berupa sindrm vlprout fetus.
Pernah dilaporkan terhadap 7 bayi dilahirkan
dari ibu epilepsy yang menggunakan obat ini berupa kelianan pada wajah dengan
ciri-ciri.
-
Lipatan epikantis inferior
-
Jembatan yang dangkal
-
Filtram yang dangkal.
Obat ini pada masusia dapat menembus plasenta
secara bebas dan memberikan dosis yang lebih tinggi pada neonatus di ibu.
Obat ini menyebabkan kelainan 4 neural tube
defect pada 3wanita epilepsy yang hamil bila diberikan obat ini dapat
menyebabkan kelinan tersebut kira-kira 1,2%. Dosis stadium valproat
antara 600-3000 mg /hari.
4. Karbamazepi
Obat ini terlibat pada mal formasi mayor tetapi
dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan kepala janin. Penggunaan obat ini
(tunggal) / kombinasi dengan venobarbital dapat menyebabkkan retardasi.
Dan dari ibu yang menggunakan obat karbamazepi
tunggal ditemukan 20% dengan gangguan perkemabangan. Karbamazepi dapat
mengakibatkan kasis spina bifida sebanyak 0,5-1,0%. Dosis karbamazepi 40-1800
mg /hari.
5. Fenobarbita
Terdapat sedikit keterangna menganai
teratogenik dari obat ini. Studi awal mengatakan bahwa sebagian besar wanita
epilepsy mendapat kombinasi antara fenotoni dan fenoberbita.
Efek teratogenik obat ini kurang bila dibandingkan
dengan obat anti epilepsy lain dan pada manusia. Fenobarbita tidak menyebabkan
meningkatnya angka malformasi.
Pemakaian obat ini dapat mengakibatkan sindrom
fenobarbita fetus yang berupa disforfin wajah. Gangguan pertumbuhan pre dan pos
natal, perkembangna lambat.
Menurut penelitin terdapat tikus yang hamil
diberikan obat ini mengakibatkan bibir dan platum sumbing berkisar antara
0,6-3,9%. Dosis fenobarbita antara 30-240 mg /hari.
VII. Efek
Terotegenik Obat Anti Epilepsi
Hipotensi mekanisme terjadinya teratogenitas
obat anti epilepsy adalah :
1. metabolisme
obat anti epilepsy terjadi melalui komponen arene oksid atau epoksid, yang
sebagian besar merupakan komponen reaktif yang bersifat teratogenik.
2. kelas genetic
yang disebabkan oleh hidrolase epoksid meningkat resiko terhadap toksitas
fetus atau alternative lain.
3. radikal bebas
yang dihasilkan dari metabolisme obat anti epilepsy dan bersifat sitotosik.
4. kelainan
genetic yang disebabkan oleh “Free ladical SC avenging actifity”. Meningkatkan
rasiko terhadap toksisitas fetus.
VIII. Prosentasi
malformasi akibat obat anti epilepsy adalah :
1. Trimetabion
lebih 50 %
2. Fenitoin 30%
3. Sodium
valproat 1,2%
4. Kabamezapin
0,5-1%
5. Fenobarbital
0,6%
Konsentrasi obet anti epilepsy dalam
plasma wanita hamil yang akan melahirkan, malformasi selalu lebih tinggi dari
pada kadar obabt antiepilepsi pada wanita epilepsy hamil yang melahirkan.
Pada wanita epilepsy yang hamil dengan menggunakan
berbagai jenis obat epilepsy, wanita epilepsy hamil memakai obat epilepsy
tunggal. Sudah tentu multiple dan menggunakan dosis tinggi berhubungan dengan
jenis epilepsy, yang tidak mudah terkontrol.
Malformais fetal yang berhubungan dengan
obat-obatan anti epilepsy, algi pula dengan adanya kemungkinan neonatus cacad
akibat malformasi dan anomaly congenital.
Mencakup kasus kelahiran sejumlah 427 pada 186
wanita epilepsy menemukan anak dengan cacad (bibir dan langit-langit sumbing)
yang berjumlah cukup banyak



0 komentar:
Posting Komentar