Pengertian
Diantara seluruh tahap kehidupan yang kita
alami,mungkin salah satu tahap yang paling tak terlupakan adalah masa remaja,
tampaknya tidak ada fase lain banyak dipenuhi dengan pengalaman tentang patah
hati,konflik batin,dan kesalahpahaman selain masa remaja. Kita masih dapat mengingat antara rasa
sakit dan kebahagiaan bercampur menjadi satu yang kita alami saat remaja.Kita
tetap menyimpan kenangan betapa kita disalahpahami, betapa kita begitu sering
dan cepat berubah-rubah,betapa kita begitu mengharapkan penerimaan,dan betapa
kita begitu merasakan kesepian dan kesendirian
Remaja
sering diidentikan dengan usia belasan tahun
sehingga dalam bahasa inggris ”remaja” juga disebut dengan istilah “Teenager”, selain kata adolescent.Akan tetapi remaja
tidak hanya dapat diidentifikasi berdasarkan usia,tetapi juga bisa ditelisik
dari kehidupan yang penuh dengan keceriaan,warna-warni,dan permulaan usia
mengenal lawan jenis.
Selain itu, di usia remaja kita juga biasanya mulai bertemu dengan
nilai-nilai dan norma-norma baru yang berbeda dengan nilai dan norma yang
selama ini kita kenal. Pada
masa remaja juga kita pada umumnya mulai merasakan kegelisahan dalam hubungan
kita dengan orang tua dan teman-teman sebaya;kita ingin menunjukkan kemandirian
kita di satu sisi,tetapi di sisi lain
kita belum dapat melepaskan diri sepenuhnya dari pengawasan dan ketergantungan
kita dari orang tua.
B. Ciri-ciri Fisik dan Psikologis
Bila merujuk pada psikologi perkembangan
akan kita temukan pembagian tahap perkembangan psikologis kita menjadi tiga
tahap: sembilan tahun pertama, sembilan tahun kedua dan sembilan tahun ketiga.
Sembilan tahun pertama dalam kehidupan kita dapat disebut sebagai masa
kanak-kanak. Pada masa ini kita hampir
sepenuhnya bergantung pada perhatian dan bimbingan orang lain, utamanya orang tua kita. Dari persoalan mandi, makan, apa
yang kita pakai, pilihan sekolah, dan teman hamper semuanya di pengaruhi oleh
keputusan dan kebijakan orangtua kita. Masa kanak-kanak ditandai dengan
perkembangan dan pertumbuhan fisik yang sangat cepat: mulai dari belajar
telungkup, merangkak, berjalan, berbicara, dan berpikir. Usia remaja berada
pada perkembangan psikologis kedua dan sembilan tahun kedua setelah kita
melewati masa kanak-kanak. Pada masa ini kita mulai diajari tantang kemandirian
dan bagaimana membuat keputusan untuk diri kita sendiri. Selain itu,
karakteristik umum dari pertumbuhan dan perkembangan fisik kita pada periode
usia ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertumbuhan tinggi badan dan berat badan pada
umumnya lambat dan mantap. Pertumbuhan yang
sangat cepat pada masa kanak-kanak telah selesai dan perubahan-perubahan
menginjak usia remaja mulai tampak. Pada usia ini kita cenderung mengalami
perubahan hormonal,berupa perubahan suara, mulai tumbuhnya bulu-bulu di bagian
tubuh tertentu, dan penonjolan-penonjolan pada bagian tubuh tertentu bagi
perempuan.
Pada tingkat usia ini system peredaran darah, pencernaan dan pernapasan sudah berfungsi secara
lengkap meskipun pertumbuhan masih terus berlanjut. Paru-paru kita sudah hampir
berkembang secara lengkap dan tingkat respirasi orang dewasa. Tekanan darah
meningkat menjadi sedikit lebih rendah dari pada tekanan orang dewasa. Otak dan
urat syaraf tulang belakang ( spinal cord ) menjadi orang dewasa pada usia 10
tahun, tetapi perkembangan sel-sel yang berkaitan dengan perkembangan mental
belum sempurna dan terus berlanjut selama beberapa tahun kemudian. Pada usia 10
tahun, mata kita telah mencapai ukuran dewasa
dan fungsinya sudah berkembang secara maksimal.
Masa remaja adalah saat ketika kita tidak
lagi menjadi kanak-kanak, tetapi belum memasuki usia dewasa. Meskipun begitu,
ada juga di antara kita, remaja, yang kekanak-kanakan atau remaja yang sudah
mampu berpikir layaknya orang dewasa. Saat masih kanak-kanak hamper sepenuhnya
kita bergantung pada orang lain, terutama orangtua atau wali kita. Masa
kanak-kanak adalah masa “ketergantungan aktif” ketika kita sepenuhnya
mengharapkan kasih-sayang dan perhatian orang lain. Tetapi pada masa
kanak-kanak kita juga sadar tantang ketergantungan kita dan berjuang untuk
membebaskan diri meskipun kita tidak sepenuhnya menyadari: bebas dari apa atau
kebebasan untuk apa.
Kita menjadi tergugah untuk menemukan diri kita. Ketergugahan dan keingintahuan itulah yang
merupakan titik yang akan menjembatani antara masa kanak-kanak dan masa remaja.
Tetapi bahkan masa kanak-kanak kita yang diaktualisasikan secara lengkap pun
belum dapat mempersiapkan diri kita secara baik
untuk menghadapi masa remaja. Tahap kehidupan
baru memiliki nilai-nilai yang sama sekali unik, demikian juga dengan
kewajiban-kewajiban dan kebajikan-kebajikannya. Masa remaja menuntut sebuah
kehidupan baru yang lebih agresif dimana apa yang telah kita pelajari pada masa
kanak-kanak hanya memeliki sedikit peran dan pengaruh.
Masa
remaja juga biasanya dikaitkan dengan masa “puber” atau pubertas. Istilah
“puber” kependekan dari “pubertas”, berasal dri bahasa Latin. Pubertas berarti
kelaki-lakian dan menunjukan kedewasaan yang dilandasi oleh sifat-sifat
kelaki-lakian dan ditandai oleh kematangan fisik. Istilah “puber” sendiri
berasal dari akar kata ”pubes”, yang berarti rambut-rambut kemaluan, yang menandakan kematangan fisik. Dengan demikian, masa
pubertas meliputi masa peralihan dari masa anak sampai tercapainya kematangan
fisik, yakni dari umur 12 tahun sampai 15 tahun. Pada masa ini terutama
terlihat perubahan-perubahan jasmaniah berkaitan dengan proses kematangn jenis
kelamin. Terlihat pula adanya perkembangan psikososial berhubungan dengan ber
fungsinya kita dalam lingkungan social, yakni dengan melepaskan diri dari
ketergantungan penuh kepada orangtua, pembentukan rencana hidup dan system
nilai-nilai yang baru.
Dalam literature Barat, remaja juga disebut sebagai adolescent dan masa remaja disebut sebagai
adolescentia atau adolesensia. Beberapa tokoh psikologi menekankan pembahasan tentang
adolesensia atau masa remaja pada perubahan-perubahan penting yang terjadi di
dalamnya. Jean Piaget, misalnya, lebih menitik beratkan pada
perubahan-perubahan yang dianggap penting dengan memandang “adolesensia”
sebagai suatu fase kehidupan, dengan terjadinya perubahan-perubahan penting
pada fungsi inteligensia, yang tercakup dalam
aspek kognitif seseorang.
Tokoh lain, Ana Freud, menggambarkan masa adolesensia
sebagai suatu proses perkembangan yang meliputi perubahan-perubahan berhubungan
dengan perkembangan psikoseksual, perubahan dalam hubungan kita dengan orangtua
dan cita-cita. F. Neidhart juga melihat masa adolesensia sebagai masa peralihan
ditintau dari kedudukan ketergantungannya dalam keluarga menuju ke kehidupan
dengan kedudukan “mandiri”.
Sedangkan E. H. Erikson mengemukakan
timbulnya perasaan baru tentang identitas dalam diri kita pada masa
adolesensia. Terbentuknya gaya hidup tertentu sehubungan dengan penempatan diri
kita, yang tetap dapat dikenal oleh lingkungan walaupun telah mengalami
perubahan baik pada diri kita maupun kehidipan sehari-hari.
Dalam
pembahasan kemudian, istilah “adolesensia” diartikan sebagai “masa remaja”
dengan pengertian yang
luas, meliputi seluruh perubahan yang terjadi di dalamnya. Remaja merupakan
masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yakni antara usia 12
sampai 21 tahun. Mengingat pengertian remaja tersebut meninjukan pada masa
peralihan sampai tercapainya masa dewasa, maka sulit menentukan batasan
umurnya. Tetapi setidaknya dapat dikatakan bahwa masa remaja dimulai pada saat
timbulnya perubahan-perubahan berkaitan dengan tanda-tanda kedewasaan fisik
yakni pada usia 11 tahun atau mungkin 12 tahun pada anak permpuan sedangkan
pada anak laki-lakinumumnya terjadi di atas 12 tahun.
C.
Mengenali
Kebutuhan-kebutuhan Psikologis Remaja
Konsepsi merupakan kebutuhan pada hakikatnya lebih
berkaitan dengan implikasi-implikasi social dari pada sekedar sebuah
penggambaran tentang perilaku manusia berkaitan dengan insting-insting yang
dimilikinya. Insting, berdasarkan definisinya, merupakan sebuah atribut bagi
seseorang individu. Kebutuhan mengisyaratkan kerjasama ( cooperation ) kelompok
untuk dapat memenuhinya. Ia mengarahkan perhatian dari individu kepada
masyarakatnya dengan cara-cara yang, jika diperlukan, mungkun digunakan oleh
suatu kelompok untuk memodifikasi metodo-metodenya dengan harapan mendapatkan
pelbagai perubahan yang dihasilkan dalam reaksi seorang individu.
Berbagai jenis kebutuhan kita sebagai remaja selama ini telah di kompilasikan dari kebutuhan-kebutuhan psikologis mendasar. Salah satu penjelasan paling awal mengenai kebutuhan-kebutuhan remaja adalah bahwa pada mas remaja pada umumnya kita merindukan pengalaman baru, rasa aman, resons, dan pengakuan. Di usia ini kita seringkali merasa bahwa rumah tempat kita tinggal telah memberi kita monotomi rasa tidak aman dan penolakan. Penyimpangan yang kita lakukan kadang-kadang dapat digambarkan sebagai upaya yang salah arah untuk menenukan kepuasan atau pemenuhan atas keinginan-keinginan kita yang paling fundamental.
Salah satu kebutuhan psikologis kita yang paling penting dan juga kebutuhan seluruh manusi adalah peneromaan oleh kelompoksosial di sekitarnya. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan akan kasih saying dalam lingkungan dekat dalam rumah, penghormatan di antara teman-teman kita sebaya dan apresiasi dari orangtua atau guru-guru yang mengajar kita. Kebutuhan ini mengambil bentuk-bentuk yang berbeda pada tahap-tahap usia yang berbeda dan dalam hubunganya dengan orang-orang berbeda. Tetapi kebutuhan ini tampaknya muncul dari watak esensial manusia sebagai makhluk social sebagai anggota kelompok sosisal tertentu.
Berbagai jenis kebutuhan kita sebagai remaja selama ini telah di kompilasikan dari kebutuhan-kebutuhan psikologis mendasar. Salah satu penjelasan paling awal mengenai kebutuhan-kebutuhan remaja adalah bahwa pada mas remaja pada umumnya kita merindukan pengalaman baru, rasa aman, resons, dan pengakuan. Di usia ini kita seringkali merasa bahwa rumah tempat kita tinggal telah memberi kita monotomi rasa tidak aman dan penolakan. Penyimpangan yang kita lakukan kadang-kadang dapat digambarkan sebagai upaya yang salah arah untuk menenukan kepuasan atau pemenuhan atas keinginan-keinginan kita yang paling fundamental.
Salah satu kebutuhan psikologis kita yang paling penting dan juga kebutuhan seluruh manusi adalah peneromaan oleh kelompoksosial di sekitarnya. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan akan kasih saying dalam lingkungan dekat dalam rumah, penghormatan di antara teman-teman kita sebaya dan apresiasi dari orangtua atau guru-guru yang mengajar kita. Kebutuhan ini mengambil bentuk-bentuk yang berbeda pada tahap-tahap usia yang berbeda dan dalam hubunganya dengan orang-orang berbeda. Tetapi kebutuhan ini tampaknya muncul dari watak esensial manusia sebagai makhluk social sebagai anggota kelompok sosisal tertentu.
Pengalaman akan penerimaan ini pada masa
balita dan kanak-kanak mengarahkan pada rasa aman yang kemudian membentuk salah
satu bahan penting untuk kesehatan mental semangat juang dari warga sipil atau
tentara yang karena diperkuat oleh perasaan ini, mampu menghadapi pelbagai
kesulitan dan kekecewaan tanpa kecemasan yang berlebihan. Anak-anak yang
ditolak atau tidak diinginkan pada masa balitanya lebih besar kemungkinanya
untuk menjadi nak-anak yang sulit diatur dan akan menyulitkan para gurunya pda
usia sekolah.
Bersamaan dengan kebutuhan ini, manusia pada
umumnya juga memiliki kebutuhan untuk “memberi dan menerima” untuk menunjukan
rasa kasih saying, merasakan penghormatan, mengekspresikan penghargaan Pelbagai
studi kasus yang dilakukakn C.M. Fleming, misalnya, menunjukan efek-efek yang
merugikan akibat dihalanginya komplemen atas penerimaan oleh kelompok sosial
ini. Hilangnya rasa ini larangan atas kasih sayang
dalam bentuk ekstrem mengarah pada penekana yang berlebihan atas nilai
kepuasaan-kepuasaan pengganti semisal hasrat yang besar akan kekuasaa ataau
atas kesenangan.Kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan untuk mempelajari hal-hal
baru kebutuhan untuk mengalami petualangan-petualangan segar . Kebutuhan
ini terkait erat dengan impuls organisme manusia terhadap pertumbuhan dan
perkembangan; tetapi tidak terbatas hanya pada pertumbuhan fisikal semata.
Kebutuhan ini tampaknya dirasakan secara terus-menerus sebagai atribut umat
manusia dari kelahiran hingga kematiannya. Pada masa kanak-kanak, kebutuhan ini
ditunjukan sebagai eksplorasi atas ruangan, rumah, atau jalan. Pada tahap
selanjutnya, kebutuhan ini kemudian meluas hingga mencakup
pengalaman-pengalaman baru di sekolah dan lingkungan; dan, pada masa remaja
atau dewasa, kebutuhan ini secara potensial meluas sampai pada batas-batas
pengetahuan mengenai suku, bangsa atau ras. Penaklukannya dari satu langkah
menuju langkah lainnya ditandai dengan pengalaman akan hasilan pengakuan yang
diberikan olah kelompok, atau individu itu sendiri, pada fakta bahwa sebuah
kemenangan baru telah diraih.
Kebutuhan lain yang melengkapi kebutuhan
akan petualangan dan pemahaman ini adalah kebutuhan untuk melaksanakan tanggung
jawab dalam jenis tertentu untuk memberi sumbangan secara progresif melalui
tindakan tertentu bagi kesejahteraan kelompok. Seorang anak kecil yang
berbahagia dalam kehidupan keluarganya pada umumnya dapat dilibatkan untuk
melakukan kerjasama aktif dalam kehidupan keluarga. Seorang anak kecil
sebaiknya diizinkan untuk berbagi “tugas-tugas ringan” dengan ibu atau ayahnya,
maupun dengan saudara-saudaranya. Hal ini dimaksudkan untuk memupuk rasa
percaya diri dan tanggung jawab pada si anak agar si anak merasa aman dan
nyaman di rumahnya sendiri. Kebutuhan-kebutuhan yang kita miliki sebagai remaja
mempunyai keterkaitan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan.
D. Pergaulan Bebas
Akibat persepsi dan pemaknaan yang keliru
tentang cinta, tidak jarang kita terlibat dalam pergaulan yang terlalu bebas
dan permisif. Apapun boleh dilakukan, asal dilakukan atas dasar suka sama suka.
Tidak ada lagi pertimbangan tentang sebab dan akibat. Tidak ada lagi
pertimbangan berdasarkan hati nurani dan akal sehat. Dengan dalih cinta, apa pun
akan dilakukan. Biasanya kita baru merasa sadar ketika efek atau akibat dari
pergaulan bebas tersebut membawa dampak yang negative semisal kehamilan di luar
nikah, perasaan minder akibat kita merasa tidak seperti remaja-remaja lain yang
masih bersih.
Meskipun angka kehamilan remaja yang belum
menikah sulit untuk diketahui dengan pasti akibat belum adanya statistik
mengenai kehamilan remaja belum menikah, akan tetapi, dari pelbagai berita
di media massa, baik cetak maupun elektronik, dan hasil-hasil penelitian
mengenai kehamilan di luar nikah, terlepas dari keabsahan penelitian tersebut,
menunjukan kecenderungan bahwa kehamilan remaja di luar nikah cenderung selalu
meningkat dari tahu ke tahun.
Yayah Khisbiyah (1994), misalnya, mengutip berbagai hasil penelitian yang
menunjukkan intensitas angka kehamilan remaja di luar nikah. Lembaga konseling
remaja, Sahabat Remaja, menemukan dari pelbagai kasus yang mereka tangani pada
tahun 1990 dijumpai ada 80 remaja usia 14-24 tahun yang hamil sebelum nikah. Penalitian
di Manado yang dilaporkan oleh Warouw mengambil 663 sampel secara acak dari
3.106 orang meminta induksi haid ditemukan sebanyak 472 responden yang belum
menikah (71,3%) mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki (unwanted
pregnancy). Dari jumlah tersebut, 291 responden (28,8%) berusia 14-19 tahun,
345 responden (52%) berusia 20-24 tahun.
Penelitian lain yang dikutip Khisbiyah
adalah penelitian yang dilakukan Widyantoro pada tahun 1989 di Jakarta dan
Bali. Widyantoro menemukan 405 kasus kehamilan tak dikehendaki yang terkumpul
di klinik WKBT di dua kota tersebut selama satu tahun. Dari data yang terkumpul
terungkap bahwa 95 persen kehamialn adalah kehamilan pada remaja berusia 15-25
tahun. Dari segi pendidikan, 47 persen remaja tersebut duduk di tingkat SLTP
dan SLTA. Selanjutnya Khisbiyah melaporkan bahwa data dari klinik dan praktik
dokter di sekitar kabupaten Magelang diduga ada sekitar 1456 kasus kehamilan
remaja dalam setahun. Tentu saja kasus yang terjadi sebenarnya berbeda dari
laporan penelitian tersebut. Boleh jadi angkanya jauh lebih besar mengingat ada
sebagian kasus yang luput dari penelitian atau tidak terdektesi oleh klinik
atau dokter setempat karena mereka datang
ke tempat lain untuk melakukan pengobatan.
Jika sinyalemen ini bener, maka selayaknya
kita merasa prihatin dan mencari penangan atas masalah tersebut secara lebih
serius dan komprehensif. Kehamilan remaja di luar nikah tidak hanya membawa
dampak negatif bagi si calon ibu, tetapi juag bagi anak yang di kandungnya.
Selain itu, keluarga dari remaja yang hamil di luar nikah itu pun akan
mengalami tekanan batin tertentu mumgkin akan diterima oleh si remaja maupun
keluarganya. Rasa malu pada tetangga dan teman-teman merupakan penderitaan
batin tersendiri yang harus ditanggung si remaja dan keluarganya. Meskipun ada
sebagian orang yang tidak malu dengan kehamilannya di luar nikah.
Dalam islam, jelas sekali Al-Qur’an
melarang perzinahan karena dampak buruk yang diakibatkannya. Ayat-ayat yang
melarang zina antara lain adalah,”Dan
janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah Suatu perbuatan yang keji dan jalan yang sangat buru
(Al-Isra’:32).
Dan terhadap wanita-wanita yang mengerjakan perbuatan keji (zina),
Hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksi-
Kannya). Kemudian apabila mereka telah memberikan persaksian,
Maka kurunglah wanita-wanita itu dalam rumah sampai menemui
Ajalnya, atau sampai Allah memberikan jalan yang lain kepada mere-
Ka (An-Nisa’:15).
Dan terhadap wanita-wanita yang mengerjakan perbuatan keji (zina),
Hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksi-
Kannya). Kemudian apabila mereka telah memberikan persaksian,
Maka kurunglah wanita-wanita itu dalam rumah sampai menemui
Ajalnya, atau sampai Allah memberikan jalan yang lain kepada mere-
Ka (An-Nisa’:15).
Meskipun persoalan tafsir dan pemahaman atas
ayat tersebut masih dapat diperdebatkan, tetapi yang jelas zina zina memberikan
dampak buruk dan perbuatan yang tidak layak dilakukan. Berikut ini adalah
beberapa dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari kehamilan di usia remaja,
utamanya yang menyakut perkenbangan bayi yang akan dilahirkan sebagai manusia.
Perkembangan pada Remaja
1. Perkembangan Kognitif
Aspek kognitif yang menonjol dalam kehidupan kita adalah
kecerdasan. Kecerdasan kita terdiri atas beberapa aspek yang salah satunya
adalah kemampuan berbahasa dan menalar. Perkembangan kognitif kita dapat
dipengaruhi oleh beberapa hal, anara lain perawatan kesehatan, keadaan gizi,
dan stimulasi mental yang diberikan oleh lingkungan, terutama kedua orangtua.
Selain itu, kondisi sosial dan eoknomi serta kematangan psikologis kedua
orangtua kita pun ikut berperan besar dalam mempengaruhi perkembangan kognitif
kita.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian di Amerika, misalnya, anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu remaja rata-rata memiliki tingkat kecerdasan yang lebuh rendah dibandingkan dengan anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang usianya lebuh dewasa (lihat Baldwin & Cain, 1978). Perkembangan bahasa dan penalaran anak-anak yang lahir dari ibu-ibu remajaumumnya jauh lebuh terbelakang dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dari ibu-ibu yang usianya lebih dewasa.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian di Amerika, misalnya, anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu remaja rata-rata memiliki tingkat kecerdasan yang lebuh rendah dibandingkan dengan anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang usianya lebuh dewasa (lihat Baldwin & Cain, 1978). Perkembangan bahasa dan penalaran anak-anak yang lahir dari ibu-ibu remajaumumnya jauh lebuh terbelakang dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dari ibu-ibu yang usianya lebih dewasa.
Menurut sebagian pakar psikologi, sebagaimana dikutip
Ancok dan Suroso (1995), rendahnya tingkat kecerdasan anak-anak tersebut
disebabkan oleh si ibu yang belum mampu memberikan stimulasi mental yang baik
pada anak-anak mereka. Hal ini, antara lain disebabkan ibu-ibu yang masih
remaja ini belum memiliki kesiapan untuk menjadi seorang ibu. Perkembangan
bahasa seorang anak sangat banyak dipengaruhi oleh bagaimana cara kedua
orngtuanya berbicara kepada si anak. Aspek-aspek kecerdasan lainnya akan
berkembang jika kedua orangtua dan lingkungannya dapat memberikan permainan
atau stimulasi mental dengan baik. Orangtua yang masih remaja pada umumnya
kurang mampu memberikan stimulasi mental semacam ini.
Mengingat
kecerdasan memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan di bidang
akademik maupun karier, maka rendahnya tingkat kecerdasan anak-anak yang lahir
dari ibu-ibu remaja di luar nikah ini boleh jadi akan mengakibatkan kesulitan
hidup bagi si anak itu kelak.
2. Perkembangan Sosial dan Emosinal
Meskipun penelitian mengenai dampak kehamilan ibu remaja
diluar nikah terhadap perkembangan sosial dan emosinal anaknya belum menunjukan
hasil-hasil yang konsisten; tetapi cukup banyak penelitian yang menemukan dampak
negatif dari kehamilan semacam ini. Baldwin dan Cain (1981), misalnya,
menemukan bahwa anak-anak yang lahir dari ibu remaja lebih banyak memiliki
sifat hiperaktif, rasa bermusuhan yang besar , kurang mampu mengontrol emosi
dan lebih impulsive jika dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dari ibu
dewasa.
Sifat-sifat negatif seperti di atas sedikit banyak akan mempengaruhi proses penyesuaian diri kita terhadap lingkungannya, baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Selain itu, prestasi kita di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemempuan kognitif kita (kecerdasan kita) dan kemampuan menyesuaikan diri dengan sekolah. Anak yang tingkat kecerdasannya rendah biasanya memiliki prestasi kurang (atau bahkan tidak) baik di sekolah. Selain itu, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di sekolah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap prestasi belajar anak. Anak yang agresif, suka menyerang, suka diatur biasanya memiliki prestasi yang kurang baik. Para guru biasanya tidak menyukai anak-anak hiperaktif, nakal, dan suka mengganggu teman-temannya. Eric Taylor (1988), misalnya, pernah menceritakan seorang anak yang bernama Ari, anak berusia sembilan tahun, yang memiliki masalah yang berkaitan dengan sikap agresif Ari dan ketelengasannya kepada anak lain. Dalam sebuah perkelahian Ari pernak mendorong lawannya keluar dari jendeladan pernah menikam lawannya yang lain dengan gunting. Dua sekolahnya yang dahulu telah menyatakan bahwa Aria tidak dapat dikendalikan dank arena itu dikeluarkan. Setiap orang yang mengenalnya sependapat bahwa di luar biasa over aktif, tidak pernah mengasyiki suatui kegiatan apa pun, dikucilkan oleh teman-teman sebayanya, dan mudah mengamuk bila merasa frustasi. Pola perilaku seperti ini sudah tampak sejak Ari masih berusia satu tahun, tetapi bersamaan dengan tambahnya usia, nyata sekali dia menjadi semakin menjadoi pemurung. Sifat lekas marah dan kecurigaannya yang berlebihan sebagian besar agaknya terkait dengan suasana rumahnya yang penyh “badai”, dimana perbantahan menyangkut kebiasaan buruk ayahnya seringkali tidak terkendalikan dan meningkat menjadi percekcokansecara fisik.
Sifat-sifat negatif seperti di atas sedikit banyak akan mempengaruhi proses penyesuaian diri kita terhadap lingkungannya, baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Selain itu, prestasi kita di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemempuan kognitif kita (kecerdasan kita) dan kemampuan menyesuaikan diri dengan sekolah. Anak yang tingkat kecerdasannya rendah biasanya memiliki prestasi kurang (atau bahkan tidak) baik di sekolah. Selain itu, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di sekolah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap prestasi belajar anak. Anak yang agresif, suka menyerang, suka diatur biasanya memiliki prestasi yang kurang baik. Para guru biasanya tidak menyukai anak-anak hiperaktif, nakal, dan suka mengganggu teman-temannya. Eric Taylor (1988), misalnya, pernah menceritakan seorang anak yang bernama Ari, anak berusia sembilan tahun, yang memiliki masalah yang berkaitan dengan sikap agresif Ari dan ketelengasannya kepada anak lain. Dalam sebuah perkelahian Ari pernak mendorong lawannya keluar dari jendeladan pernah menikam lawannya yang lain dengan gunting. Dua sekolahnya yang dahulu telah menyatakan bahwa Aria tidak dapat dikendalikan dank arena itu dikeluarkan. Setiap orang yang mengenalnya sependapat bahwa di luar biasa over aktif, tidak pernah mengasyiki suatui kegiatan apa pun, dikucilkan oleh teman-teman sebayanya, dan mudah mengamuk bila merasa frustasi. Pola perilaku seperti ini sudah tampak sejak Ari masih berusia satu tahun, tetapi bersamaan dengan tambahnya usia, nyata sekali dia menjadi semakin menjadoi pemurung. Sifat lekas marah dan kecurigaannya yang berlebihan sebagian besar agaknya terkait dengan suasana rumahnya yang penyh “badai”, dimana perbantahan menyangkut kebiasaan buruk ayahnya seringkali tidak terkendalikan dan meningkat menjadi percekcokansecara fisik.
Dalam kasus Ari, jelas sekali perangi atau watak yang
ditunjukan orangtua memiliki pengaru yang besar terhadap perkembangan
psikologis seorang anak. Ada sebuah ungkapan bijak yang menyatakan,”Jika
seorang anak dan pujian, dia akan belajar untuk menghormati orang lain. Jika
seorang anak dibesarkan dengan caci maki dan hinaan, dia akan belajar untuk
membenci orang lain”.
3. Perkembangan Seksual
Mungkin ada pertanyaan yang pernah terbersit dalam benak sebagian kita: Apakah anak perempuan yang dilahirkan oleh
ibu remaja di luar nikah pada saat anak itu menginjak remaja nanti lebuh
memiliki kemungkinan untuk hamil di luar nikah jika dibandingkan dengan
anak-anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu dewasa dalam pernikahan yang sah. Pertanyaan ini cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut
untuk mengetahui ada tidaknya efek estafet dari kehamilan remaja di luar nikah
terhadap generasi penerusnya.
Baldwin dan Cain (1981) melaporkan bahwa tanda-tanda
terjadinya efek estafet itu memang ada. Anak-anak yang lahir dari ibu remaja
memiliki kemungkinan lebih besar untuk hamil di luar nikah pada usia remaja
jika dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dari ibu dewasa dan dalam
pernikahan yang sah. Ini memang logis mengingat remaja pada umumnya belum siap
untu menerima kehadiran seorang anak sebagai bagian dari kehidupannya. Ketidaksiapan ini kemudian
yang, antara lain, menyebabkan kurangnya kemampuan orangtua untuk mendidik dan
mengasuh anaknya dengan baik dan benar sehingga risiko untuk terjerumus kedalam
hal-hal yang negatif akan lebih besar.



0 komentar:
Posting Komentar