Minggu, 22 Juni 2014

KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA


Pengertian
          Diantara seluruh tahap kehidupan yang kita alami,mungkin salah satu tahap yang paling tak terlupakan adalah masa remaja, tampaknya tidak ada fase lain banyak dipenuhi dengan pengalaman tentang patah hati,konflik batin,dan kesalahpahaman selain masa remaja. Kita masih dapat mengingat antara rasa sakit dan kebahagiaan bercampur menjadi satu yang kita alami saat remaja.Kita tetap menyimpan kenangan betapa kita disalahpahami, betapa kita begitu sering dan cepat berubah-rubah,betapa kita begitu mengharapkan penerimaan,dan betapa kita begitu merasakan kesepian dan kesendirian      
Remaja sering diidentikan dengan usia belasan tahun sehingga dalam bahasa inggris ”remaja” juga disebut dengan istilah “Teenager”, selain kata adolescent.Akan tetapi remaja tidak hanya dapat diidentifikasi berdasarkan usia,tetapi juga bisa ditelisik dari kehidupan yang penuh dengan keceriaan,warna-warni,dan permulaan usia mengenal lawan jenis.
          Selain itu, di usia remaja kita juga biasanya mulai bertemu dengan nilai-nilai dan norma-norma baru yang berbeda dengan nilai dan norma yang selama ini kita kenal. Pada masa remaja juga kita pada umumnya mulai merasakan kegelisahan dalam hubungan kita dengan orang tua dan teman-teman sebaya;kita ingin menunjukkan kemandirian kita di satu sisi,tetapi di sisi lain kita belum dapat melepaskan diri sepenuhnya dari pengawasan dan ketergantungan kita dari orang tua.
B.   Ciri-ciri Fisik dan Psikologis
          Bila merujuk pada psikologi perkembangan akan kita temukan pembagian tahap perkembangan psikologis kita menjadi tiga tahap: sembilan tahun pertama, sembilan tahun kedua dan sembilan tahun ketiga. Sembilan tahun pertama dalam kehidupan kita dapat disebut sebagai masa kanak-kanak. Pada masa ini kita hampir sepenuhnya bergantung pada perhatian dan bimbingan orang lain, utamanya orang tua kita. Dari persoalan mandi, makan, apa yang kita pakai, pilihan sekolah, dan teman hamper semuanya di pengaruhi oleh keputusan dan kebijakan orangtua kita. Masa kanak-kanak ditandai dengan perkembangan dan pertumbuhan fisik yang sangat cepat: mulai dari belajar telungkup, merangkak, berjalan, berbicara, dan berpikir. Usia remaja berada pada perkembangan psikologis kedua dan sembilan tahun kedua setelah kita melewati masa kanak-kanak. Pada masa ini kita mulai diajari tantang kemandirian dan bagaimana membuat keputusan untuk diri kita sendiri. Selain itu, karakteristik umum dari pertumbuhan dan perkembangan fisik kita pada periode usia ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
          Pertumbuhan tinggi badan dan berat badan pada umumnya lambat dan mantap. Pertumbuhan yang sangat cepat pada masa kanak-kanak telah selesai dan perubahan-perubahan menginjak usia remaja mulai tampak. Pada usia ini kita cenderung mengalami perubahan hormonal,berupa perubahan suara, mulai tumbuhnya bulu-bulu di bagian tubuh tertentu, dan penonjolan-penonjolan pada bagian tubuh tertentu bagi perempuan.
          Pada tingkat usia ini system peredaran darah, pencernaan dan pernapasan sudah berfungsi secara lengkap meskipun pertumbuhan masih terus berlanjut. Paru-paru kita sudah hampir berkembang secara lengkap dan tingkat respirasi orang dewasa. Tekanan darah meningkat menjadi sedikit lebih rendah dari pada tekanan orang dewasa. Otak dan urat syaraf tulang belakang ( spinal cord ) menjadi orang dewasa pada usia 10 tahun, tetapi perkembangan sel-sel yang berkaitan dengan perkembangan mental belum sempurna dan terus berlanjut selama beberapa tahun kemudian. Pada usia 10 tahun, mata kita telah mencapai ukuran dewasa dan fungsinya sudah berkembang secara maksimal.
          Masa remaja adalah saat ketika kita tidak lagi menjadi kanak-kanak, tetapi belum memasuki usia dewasa. Meskipun begitu, ada juga di antara kita, remaja, yang kekanak-kanakan atau remaja yang sudah mampu berpikir layaknya orang dewasa. Saat masih kanak-kanak hamper sepenuhnya kita bergantung pada orang lain, terutama orangtua atau wali kita. Masa kanak-kanak adalah masa “ketergantungan aktif” ketika kita sepenuhnya mengharapkan kasih-sayang dan perhatian orang lain. Tetapi pada masa kanak-kanak kita juga sadar tantang ketergantungan kita dan berjuang untuk membebaskan diri meskipun kita tidak sepenuhnya menyadari: bebas dari apa atau kebebasan untuk apa.
           Kita menjadi tergugah untuk menemukan diri kita. Ketergugahan dan keingintahuan itulah yang merupakan titik yang akan menjembatani antara masa kanak-kanak dan masa remaja. Tetapi bahkan masa kanak-kanak kita yang diaktualisasikan secara lengkap pun belum dapat mempersiapkan diri kita secara baik untuk menghadapi masa remaja. Tahap kehidupan baru memiliki nilai-nilai yang sama sekali unik, demikian juga dengan kewajiban-kewajiban dan kebajikan-kebajikannya. Masa remaja menuntut sebuah kehidupan baru yang lebih agresif dimana apa yang telah kita pelajari pada masa kanak-kanak hanya memeliki sedikit peran dan pengaruh.
          Masa remaja juga biasanya dikaitkan dengan masa “puber” atau pubertas. Istilah “puber” kependekan dari “pubertas”, berasal dri bahasa Latin. Pubertas berarti kelaki-lakian dan menunjukan kedewasaan yang dilandasi oleh sifat-sifat kelaki-lakian dan ditandai oleh kematangan fisik. Istilah “puber” sendiri berasal dari akar kata ”pubes”, yang berarti rambut-rambut kemaluan, yang menandakan kematangan fisik. Dengan demikian, masa pubertas meliputi masa peralihan dari masa anak sampai tercapainya kematangan fisik, yakni dari umur 12 tahun sampai 15 tahun. Pada masa ini terutama terlihat perubahan-perubahan jasmaniah berkaitan dengan proses kematangn jenis kelamin. Terlihat pula adanya perkembangan psikososial berhubungan dengan ber fungsinya kita dalam lingkungan social, yakni dengan melepaskan diri dari ketergantungan penuh kepada orangtua, pembentukan rencana hidup dan system nilai-nilai yang baru.     
           Dalam literature Barat, remaja juga disebut sebagai adolescent dan masa remaja disebut sebagai adolescentia atau adolesensia. Beberapa tokoh psikologi menekankan pembahasan tentang adolesensia atau masa remaja pada perubahan-perubahan penting yang terjadi di dalamnya. Jean Piaget, misalnya, lebih menitik beratkan pada perubahan-perubahan yang dianggap penting dengan memandang “adolesensia” sebagai suatu fase kehidupan, dengan terjadinya perubahan-perubahan penting pada fungsi inteligensia, yang tercakup dalam aspek kognitif seseorang.
           Tokoh lain, Ana Freud, menggambarkan masa adolesensia sebagai suatu proses perkembangan yang meliputi perubahan-perubahan berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, perubahan dalam hubungan kita dengan orangtua dan cita-cita. F. Neidhart juga melihat masa adolesensia sebagai masa peralihan ditintau dari kedudukan ketergantungannya dalam keluarga menuju ke kehidupan dengan kedudukan “mandiri”.
          Sedangkan E. H. Erikson mengemukakan timbulnya perasaan baru tentang identitas dalam diri kita pada masa adolesensia. Terbentuknya gaya hidup tertentu sehubungan dengan penempatan diri kita, yang tetap dapat dikenal oleh lingkungan walaupun telah mengalami perubahan baik pada diri kita maupun kehidipan sehari-hari.
          Dalam pembahasan kemudian, istilah “adolesensia” diartikan sebagai “masa remaja” dengan  pengertian yang luas, meliputi seluruh perubahan yang terjadi di dalamnya. Remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yakni antara usia 12 sampai 21 tahun. Mengingat pengertian remaja tersebut meninjukan pada masa peralihan sampai tercapainya masa dewasa, maka sulit menentukan batasan umurnya. Tetapi setidaknya dapat dikatakan bahwa masa remaja dimulai pada saat timbulnya perubahan-perubahan berkaitan dengan tanda-tanda kedewasaan fisik yakni pada usia 11 tahun atau mungkin 12 tahun pada anak permpuan sedangkan pada anak laki-lakinumumnya terjadi di atas 12 tahun.
C.  Mengenali Kebutuhan-kebutuhan Psikologis Remaja
          Konsepsi merupakan kebutuhan pada hakikatnya lebih berkaitan dengan implikasi-implikasi social dari pada sekedar sebuah penggambaran tentang perilaku manusia berkaitan dengan insting-insting yang dimilikinya. Insting, berdasarkan definisinya, merupakan sebuah atribut bagi seseorang individu. Kebutuhan mengisyaratkan kerjasama ( cooperation ) kelompok untuk dapat memenuhinya. Ia mengarahkan perhatian dari individu kepada masyarakatnya dengan cara-cara yang, jika diperlukan, mungkun digunakan oleh suatu kelompok untuk memodifikasi metodo-metodenya dengan harapan mendapatkan pelbagai perubahan yang dihasilkan dalam reaksi seorang individu.
          Berbagai jenis kebutuhan kita sebagai remaja selama ini telah di kompilasikan dari kebutuhan-kebutuhan psikologis mendasar. Salah satu penjelasan paling awal mengenai kebutuhan-kebutuhan remaja adalah bahwa pada mas remaja pada umumnya kita merindukan pengalaman baru, rasa aman, resons, dan pengakuan. Di usia ini kita seringkali merasa bahwa rumah tempat kita tinggal telah memberi kita monotomi rasa tidak aman dan penolakan. Penyimpangan yang kita lakukan kadang-kadang dapat digambarkan sebagai upaya  yang salah arah untuk menenukan kepuasan atau pemenuhan atas keinginan-keinginan kita yang paling fundamental.
          Salah satu kebutuhan psikologis kita yang paling penting dan juga kebutuhan seluruh manusi adalah peneromaan oleh kelompoksosial di sekitarnya. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan akan kasih saying dalam lingkungan dekat dalam rumah, penghormatan di antara teman-teman kita sebaya dan apresiasi dari orangtua atau guru-guru yang mengajar kita. Kebutuhan ini mengambil bentuk-bentuk yang berbeda pada tahap-tahap usia yang berbeda dan dalam hubunganya dengan orang-orang berbeda. Tetapi kebutuhan ini tampaknya muncul dari watak esensial manusia sebagai makhluk social sebagai anggota kelompok sosisal tertentu.
          Pengalaman akan penerimaan ini pada masa balita dan kanak-kanak mengarahkan pada rasa aman yang kemudian membentuk salah satu bahan penting untuk kesehatan mental semangat juang dari warga sipil atau tentara yang karena diperkuat oleh perasaan ini, mampu menghadapi pelbagai kesulitan dan kekecewaan tanpa kecemasan yang berlebihan. Anak-anak yang ditolak atau tidak diinginkan pada masa balitanya lebih besar kemungkinanya untuk menjadi nak-anak yang sulit diatur dan akan menyulitkan para gurunya pda usia sekolah.
          Bersamaan dengan kebutuhan ini, manusia pada umumnya juga memiliki kebutuhan untuk “memberi dan menerima” untuk menunjukan rasa kasih saying, merasakan penghormatan, mengekspresikan penghargaan Pelbagai studi kasus yang dilakukakn C.M. Fleming, misalnya, menunjukan efek-efek yang merugikan akibat dihalanginya komplemen atas penerimaan oleh kelompok sosial ini. Hilangnya rasa ini larangan atas kasih sayang dalam bentuk ekstrem mengarah pada penekana yang berlebihan atas nilai kepuasaan-kepuasaan pengganti semisal hasrat yang besar akan kekuasaa ataau atas kesenangan.Kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan untuk mempelajari hal-hal baru kebutuhan untuk mengalami petualangan-petualangan  segar . Kebutuhan ini terkait erat dengan impuls organisme manusia terhadap pertumbuhan dan perkembangan; tetapi tidak terbatas hanya pada pertumbuhan fisikal semata. Kebutuhan ini tampaknya dirasakan secara terus-menerus sebagai atribut umat manusia dari kelahiran hingga kematiannya. Pada masa kanak-kanak, kebutuhan ini ditunjukan sebagai eksplorasi atas ruangan, rumah, atau jalan. Pada tahap selanjutnya, kebutuhan ini kemudian meluas hingga mencakup pengalaman-pengalaman baru di sekolah dan lingkungan; dan, pada masa remaja atau dewasa, kebutuhan ini secara potensial meluas sampai pada batas-batas pengetahuan mengenai suku, bangsa atau ras. Penaklukannya dari satu langkah menuju langkah lainnya ditandai dengan pengalaman akan hasilan pengakuan yang diberikan olah kelompok, atau individu itu sendiri, pada fakta bahwa sebuah kemenangan baru telah diraih.
          Kebutuhan lain yang melengkapi kebutuhan akan petualangan dan pemahaman ini adalah kebutuhan untuk melaksanakan tanggung jawab dalam jenis tertentu untuk memberi sumbangan secara progresif melalui tindakan tertentu bagi kesejahteraan kelompok. Seorang anak kecil yang berbahagia dalam kehidupan keluarganya pada umumnya dapat dilibatkan untuk melakukan kerjasama aktif dalam kehidupan keluarga. Seorang anak kecil sebaiknya diizinkan untuk berbagi “tugas-tugas ringan” dengan ibu atau ayahnya, maupun dengan saudara-saudaranya. Hal ini dimaksudkan untuk memupuk rasa percaya diri dan tanggung jawab pada si anak agar si anak merasa aman dan nyaman di rumahnya sendiri. Kebutuhan-kebutuhan yang kita miliki sebagai remaja mempunyai keterkaitan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan.
D. Pergaulan Bebas
          Akibat persepsi dan pemaknaan yang keliru tentang cinta, tidak jarang kita terlibat dalam pergaulan yang terlalu bebas dan permisif. Apapun boleh dilakukan, asal dilakukan atas dasar suka sama suka. Tidak ada lagi pertimbangan tentang sebab dan akibat. Tidak ada lagi pertimbangan berdasarkan hati nurani dan akal sehat. Dengan dalih cinta, apa pun akan dilakukan. Biasanya kita baru merasa sadar ketika efek atau akibat dari pergaulan bebas tersebut membawa dampak yang negative semisal kehamilan di luar nikah, perasaan minder akibat kita merasa tidak seperti remaja-remaja lain yang masih bersih.
          Meskipun angka kehamilan remaja yang belum menikah sulit untuk diketahui dengan pasti akibat belum adanya statistik mengenai kehamilan remaja belum  menikah, akan tetapi, dari pelbagai berita di media massa, baik cetak maupun elektronik, dan hasil-hasil penelitian mengenai kehamilan di luar nikah, terlepas dari keabsahan penelitian tersebut, menunjukan kecenderungan bahwa kehamilan remaja di luar nikah cenderung selalu meningkat dari tahu ke tahun.
          Yayah Khisbiyah (1994), misalnya, mengutip berbagai hasil penelitian yang menunjukkan intensitas angka kehamilan remaja di luar nikah. Lembaga konseling remaja, Sahabat Remaja, menemukan dari pelbagai kasus yang mereka tangani pada tahun 1990 dijumpai ada 80 remaja usia 14-24 tahun yang hamil sebelum nikah. Penalitian di Manado yang dilaporkan oleh Warouw mengambil 663 sampel secara acak dari 3.106 orang meminta induksi haid ditemukan sebanyak 472 responden yang belum menikah (71,3%) mengalami kehamilan yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy). Dari jumlah tersebut, 291 responden (28,8%) berusia 14-19 tahun, 345 responden (52%) berusia 20-24 tahun.
          Penelitian lain yang dikutip Khisbiyah adalah penelitian yang dilakukan Widyantoro pada tahun 1989 di Jakarta dan Bali. Widyantoro menemukan 405 kasus kehamilan tak dikehendaki yang terkumpul di klinik WKBT di dua kota tersebut selama satu tahun. Dari data yang terkumpul terungkap bahwa 95 persen kehamialn adalah kehamilan pada remaja berusia 15-25 tahun. Dari segi pendidikan, 47 persen remaja tersebut duduk di tingkat SLTP dan SLTA. Selanjutnya Khisbiyah melaporkan bahwa data dari klinik dan praktik dokter di sekitar kabupaten Magelang diduga ada sekitar 1456 kasus kehamilan remaja dalam setahun. Tentu saja kasus yang terjadi sebenarnya berbeda dari laporan penelitian tersebut. Boleh jadi angkanya jauh lebih besar mengingat ada sebagian kasus yang luput dari penelitian atau tidak terdektesi oleh klinik atau dokter setempat karena mereka datang ke tempat lain untuk melakukan pengobatan.
          Jika sinyalemen ini bener, maka selayaknya kita merasa prihatin dan mencari penangan atas masalah tersebut secara lebih serius dan komprehensif. Kehamilan remaja di luar nikah tidak hanya membawa dampak negatif bagi si calon ibu, tetapi juag bagi anak yang di kandungnya. Selain itu, keluarga dari remaja yang hamil di luar nikah itu pun akan mengalami tekanan batin tertentu mumgkin akan diterima oleh si remaja maupun keluarganya. Rasa malu pada tetangga dan teman-teman merupakan penderitaan batin tersendiri yang harus ditanggung si remaja dan keluarganya. Meskipun ada sebagian orang yang tidak malu dengan kehamilannya di luar nikah.
          Dalam islam, jelas sekali Al-Qur’an melarang perzinahan karena dampak buruk yang diakibatkannya. Ayat-ayat yang melarang zina antara lain adalah,Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah Suatu  perbuatan yang keji dan jalan yang sangat buru (Al-Isra’:32).
Dan terhadap wanita-wanita yang mengerjakan perbuatan keji (zina),
Hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksi-
Kannya). Kemudian apabila mereka telah memberikan persaksian,
Maka kurunglah wanita-wanita itu dalam rumah sampai menemui
Ajalnya, atau sampai Allah memberikan jalan yang lain kepada mere-
Ka (An-Nisa’:15).
          Meskipun persoalan tafsir dan pemahaman atas ayat tersebut masih dapat diperdebatkan, tetapi yang jelas zina zina memberikan dampak buruk dan perbuatan yang tidak layak dilakukan. Berikut ini adalah beberapa dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari kehamilan di usia remaja, utamanya yang menyakut perkenbangan bayi yang akan dilahirkan sebagai manusia.
Perkembangan pada Remaja
1.    Perkembangan Kognitif
     Aspek kognitif yang menonjol dalam kehidupan kita adalah kecerdasan. Kecerdasan kita terdiri atas beberapa aspek yang salah satunya adalah kemampuan berbahasa dan menalar. Perkembangan kognitif kita dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, anara lain perawatan kesehatan, keadaan gizi, dan stimulasi mental yang diberikan oleh lingkungan, terutama kedua orangtua. Selain itu, kondisi sosial dan eoknomi serta kematangan psikologis kedua orangtua kita pun ikut berperan besar dalam mempengaruhi perkembangan kognitif kita.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian di Amerika, misalnya, anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu remaja rata-rata memiliki tingkat kecerdasan yang lebuh rendah dibandingkan dengan anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang usianya lebuh dewasa (lihat Baldwin & Cain, 1978). Perkembangan bahasa dan penalaran anak-anak yang lahir dari ibu-ibu remajaumumnya jauh lebuh terbelakang dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dari ibu-ibu yang usianya lebih dewasa.
     Menurut sebagian pakar psikologi, sebagaimana dikutip Ancok dan Suroso (1995), rendahnya tingkat kecerdasan anak-anak tersebut disebabkan oleh si ibu yang belum mampu memberikan stimulasi mental yang baik pada anak-anak mereka. Hal ini, antara lain disebabkan ibu-ibu yang masih remaja ini belum memiliki kesiapan untuk menjadi seorang ibu. Perkembangan bahasa seorang anak sangat banyak dipengaruhi oleh bagaimana cara kedua orngtuanya berbicara kepada si anak. Aspek-aspek kecerdasan lainnya akan berkembang jika kedua orangtua dan lingkungannya dapat memberikan permainan atau stimulasi mental dengan baik. Orangtua yang masih remaja pada umumnya kurang mampu memberikan stimulasi mental semacam ini.
Mengingat kecerdasan memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan di bidang akademik maupun karier, maka rendahnya tingkat kecerdasan anak-anak yang lahir dari ibu-ibu remaja di luar nikah ini boleh jadi akan mengakibatkan kesulitan hidup bagi si anak itu kelak.
2.    Perkembangan Sosial dan Emosinal
     Meskipun penelitian mengenai dampak kehamilan ibu remaja diluar nikah terhadap perkembangan sosial dan emosinal anaknya belum menunjukan hasil-hasil yang konsisten; tetapi cukup banyak penelitian yang menemukan dampak negatif dari kehamilan semacam ini. Baldwin dan Cain (1981), misalnya, menemukan bahwa anak-anak yang lahir dari ibu remaja lebih banyak memiliki sifat hiperaktif, rasa bermusuhan yang besar , kurang mampu mengontrol emosi dan lebih impulsive jika dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dari ibu dewasa.
     Sifat-sifat negatif seperti di atas sedikit banyak akan mempengaruhi proses penyesuaian diri kita terhadap lingkungannya, baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Selain itu, prestasi kita di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemempuan kognitif kita (kecerdasan kita) dan kemampuan menyesuaikan diri dengan sekolah. Anak yang tingkat kecerdasannya rendah biasanya memiliki prestasi kurang (atau bahkan tidak) baik di sekolah. Selain itu, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di sekolah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap prestasi belajar anak. Anak yang agresif, suka menyerang, suka diatur biasanya memiliki prestasi yang kurang baik. Para guru biasanya tidak menyukai anak-anak hiperaktif, nakal, dan suka mengganggu teman-temannya. Eric Taylor (1988), misalnya, pernah menceritakan seorang anak yang bernama Ari, anak berusia sembilan tahun, yang memiliki masalah yang berkaitan dengan sikap agresif Ari dan ketelengasannya kepada anak lain. Dalam sebuah perkelahian Ari pernak mendorong lawannya keluar dari jendeladan pernah menikam lawannya yang lain dengan gunting. Dua sekolahnya yang dahulu telah menyatakan bahwa Aria tidak dapat dikendalikan dank arena itu dikeluarkan. Setiap orang yang mengenalnya sependapat bahwa di luar biasa over aktif, tidak pernah mengasyiki suatui kegiatan apa pun, dikucilkan oleh teman-teman sebayanya, dan mudah mengamuk bila merasa frustasi. Pola perilaku seperti ini sudah tampak sejak Ari masih berusia satu tahun, tetapi bersamaan dengan tambahnya usia, nyata sekali dia menjadi semakin menjadoi pemurung. Sifat lekas marah dan kecurigaannya yang berlebihan sebagian besar agaknya terkait dengan suasana rumahnya yang penyh “badai”, dimana perbantahan menyangkut kebiasaan buruk ayahnya seringkali tidak terkendalikan dan meningkat menjadi percekcokansecara fisik.
    Dalam kasus Ari, jelas sekali perangi atau watak yang ditunjukan orangtua memiliki pengaru yang besar terhadap perkembangan psikologis seorang anak. Ada sebuah ungkapan bijak yang menyatakan,”Jika seorang anak dan pujian, dia akan belajar untuk menghormati orang lain. Jika seorang anak dibesarkan dengan caci maki dan hinaan, dia akan belajar untuk membenci orang lain”.
3.    Perkembangan Seksual
     Mungkin ada pertanyaan yang pernah terbersit dalam benak sebagian kita: Apakah anak perempuan yang dilahirkan oleh ibu remaja di luar nikah pada saat anak itu menginjak remaja nanti lebuh memiliki kemungkinan untuk hamil di luar nikah jika dibandingkan dengan anak-anak yang dilahirkan oleh ibu-ibu dewasa dalam pernikahan yang sah. Pertanyaan ini cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut untuk mengetahui ada tidaknya efek estafet dari kehamilan remaja di luar nikah terhadap generasi penerusnya.
     Baldwin dan Cain (1981) melaporkan bahwa tanda-tanda terjadinya efek estafet itu memang ada. Anak-anak yang lahir dari ibu remaja memiliki kemungkinan lebih besar untuk hamil di luar nikah pada usia remaja jika dibandingkan dengan anak-anak yang lahir dari ibu dewasa dan dalam pernikahan yang sah. Ini memang logis mengingat remaja pada umumnya belum siap untu menerima kehadiran seorang anak sebagai bagian dari kehidupannya. Ketidaksiapan ini kemudian yang, antara lain, menyebabkan kurangnya kemampuan orangtua untuk mendidik dan mengasuh anaknya dengan baik dan benar sehingga risiko untuk terjerumus kedalam hal-hal yang negatif akan lebih besar.