A. Pengertian
Kader
Kader kesehatan masyarakat adalah
laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani
masalah-masalah kesehatan perseorangan maupum masyarakat serta untuk bekerja
dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan
kesehatan. Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan
masyarakat. Departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai pelatihan untuk
kader yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, menurunkan angka
kematian ibu dan angka kematian bayi. Para kader kesehatan masyarakat itu
seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan
mereka untuk membaca, menulis dan menghitung secara sederhana. Kader kesehatan
masyarakat bertanggung jawab terhadap masyarakat setempat serta
pimpinan-pimpinan yang ditunjuk oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan.
Diharapkakn mereka dapat melaksanakan petunjuk yang diberikan oleh para
pembimbing dalam jalinan kerja dari sebuah tim kesehatan.
B. Peran
dan Fungsi Kader
Peran
dan fungsi kader sebagai pelaku penggerakan masyarakat:
1.
Perilaku hidup bersih dan sehat
2.
Pengamatan terhadap masalah kesehatan didesa
3.
Upaya penyehatan dilingkungan
4.
Peningkatan kesehatan ibu, bayi dan balita
5.
Ermasyarakatan keluarga sadar gizi
Kader di
tunjukan oleh masyarakat dan biasanya kader melaksanakan tugas-tugas kader
kesehatan masyarakat yang secara umum hampir sama tugasnya dibeberapa Negara
yaitu:
1.
Pertolongan pertama pada kecelakaan dan
penanganan penyakit yang ringan
2.
Melaksanakan pengobatan yang sederhana
3.
Pemberian motivasi dan saran-saran pada ibu-ibu
sebelum dan sesudah melahirkan
4.
Menolong persalinan
5.
Pemberian motivasi dan saran-saran tentang
perawatan anak
6.
Memberikan motivasi dan peragaan tentang gizi
7.
Program penimbangan balita dan pemberian makanan
tambahan
8.
Pemberian motivasi tentang imunisasi dan bantuan
pengobatan
9.
Melakukan penyuntikan imunisasi
10.
Pemberian motivasi kb
11.
Membagikan alat-alat kb
12.
Pemberian motivasi tentang sanitasi
lingkungan,kesehatan perorangan dan kebiasaan sehat secara umum.
13.
Pemberian motivasi tentang penyakit
menular,pencegahan dan perujukan.
14.
Pemberian motivasi tentangperlunya fall up pada
penyakit menular dan perlunya memastikan diagnosis.
15.
Penenganan penyakit menular.
16.
Membantu kegiatan di klinik.
17.
Merujuk penderita kepuskesmas atau ke rs
18.
Membina kegiatan uks secara teratur
19.
Mengumpulkan data yang dibutuhkan oleh puskesmas
membantu pencatatan dan pelaporan.
C. Pembinaan
Kader Kesehatan
Pembinaan kader kesehatan merupakan
kegiatan dalam rangka mempersiapkan kader kesehatan agar mampu berperan serta
dalam mengembangkan pasien kesehatan di desa.
1.
Pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin ditenaga
kesehatan ( promosi bidansiaga)
Pembinaan kader yang dilakukan bidan
didalamnya berisi tentang peran kader adalah dalam daur kehidupan wanita dari
mulai kehamilan
sampai dengan masa perawatan bayi. Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam
persiapan persalinan
adalah sebagai berikut :
a. Sejak
awal, ibu hamil dan suami menentukan persalinan
ini ditolong oleh bidan
atau dokter.
b. Suami
atau keluarga perlu menabung untuk biaya persalinan.
c. Ibu
dan suami menanyakan kebidan
atau kedokter kapan perkiraan tanggal persalinan
d. Jika
ibu bersalin dirumah, suami atau keluarga perlu menyiapkan terang, tempat tidur
dengan alas kain yang bersih, air bersih dan sabun untuk cuci tangan, handuk
kain, pakaian kain yang bersih dan kering dan pakaian ganti ibu.
Pembinaan
kader yang dilakukan bidan
yang berisi tentang peran kader dalam deteksi dini tanda bahaya dalam kehamilan
maupun hal-hal berikut ini.
a.
Perdarahan ( hamil muda dan hamil tua)
b.
Bengkan dikaki, tangan, wajah, atau sakit kepala
kadang disertai kejang
c.
Demam tinggi
d.
Keluar air ketuban sebeleum waktunya
e.
Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau
tidak bergerak
f.
Ibu muntah terus dan tidak mau makan
a.
Tanda-tanda bahaya kehamilan
Pada
setiap kehamilan
perlu di informasikan kepada ibu, suami dan keluarga tentang timbulnya
kemungkinan tanda-tanda bahaya dalam kehamilan.
Adanya tanda-tanda bahaya mengharuskan ibu, suami / keluarga untuk segera
membawah ibu kepelayanan kesehatan / memanggil bidan.
Tanda-tanda bahaya kehamilan
meliputi :
1) Perdarahan
jalan lahir
2) Kejang
3) Sakit
kepala yang berlebihan
4) Muka
dan tangan bengkak
5) Demam
tinggi menggigil / tidak
6) Pucat
7) Sesak
nafas
- Tanda-tanda kegawatan dalam persalinan
Sebagai
akibat dari permasalahan dalam persalinan,
kegawatan dalam persalinan
dapat terjadi dengan tanda-tanda sebagai berikut :
1)
Perdarahan
2)
Kejang
3)
Demam, menggigil, keluar lender dan berbau
4)
Persalinan
lama
5)
Mal presentase
6)
Plasenta tidak lahir dalam 30 menit
- Kegawatan masa nifas
Pada
masa segera setelah persalinan,
kegawatan dapat terjadi baik pada ibu ataupun bayi. Kegawatan yang dapat
mengancam keselamatan ibu baru bersalin adalah perdarahan karena sisa plasenta
dan kontraksi serta sepsis (demam). Pada bayi yang baru dilahirkan dapat
terjadi depresi bayi dan atau trauma. Bila terjadi kegawatan pada ibu / bayi
beri tahu ibu, suami dan keluarga tentang tatalaksanaan yang dikerjakan dan
dampak yang dapat ditimbulkan dari tatalaksana tersebut. Serta persiapan
tindakan rujukan. Tindakan ini perlu untuk melibatkan ibu, suami dan keluarga
sehingga tercapai suatu kerjasama yang baik. Apabila ibu dan
bayi sudah berada dirumah, informasikan kepada ibu, suami dan keluarga bahwa
adanya tanda-tanda kegawatan mengharuskan ibu untuk dibawah segera kesarana
pelayanan kesehatan atau menghubungi bidan. Tanda-tanda
kegawatan masa nifas
pada ibu. Tanda-tanda kegawatan masa nifas
pada ibu yang perlu diperhatikan meliputi :
1)
Perdarahan banyak atau menetap
2)
Rasa lelah yang sangat, mata, bibir dan jari
pucat
3)
Bengkak pada salah satu atau kedua kaki
4)
Rasa sakit pada perut berlebihan dan lokia berbau
busuk atau berubah warna.
5)
Pucat, tangan dan kaki dingin (syok)
6)
Tidur turun dratis
7)
Kejang
8)
Sakit kepala berlebihan / gangguan pandangan
9)
Bengkak pada tangan dan muka
10) Peningkatan
tekanan darah
11) Buang
air kecil sedikit / berkurang dan sakit
12) Tidak
mampu menahan bak / ngompol
13) Demam
tanpa atau dengan menggigil
14) Adanya
kesedihan yang mendalam
Adanya
salah satu tanda kegawatan tersebut mengharuskan ibu mendapatkan pelayanan dari
bidan /
mencari pertolongan kesarana pelayanan kesehatan. Pada bayi sebagian besar
penyebab kematian adalah karena infeksi, asveksia dan trauma pada bayi.
Pengenalan tanda-tanda kegawatan pada bayi perlu untuk dilakukan
penatalaksanaan lebih dini yang sesuai yang dapat menurunkan kematian tersebut.
Kegawatan bayi dapat terjadi hari-hari pertama masa nifas
dan perlu pertolongan segera ataupun dalam 7 hari pertama masa nifas
yang juga memerlukan pertolongan disarana pelayanan kesehatan. Kegawatan bayi
beberapa hari setelah persalinan
harus segera dibawah kesarana pelayanan kesehatan / hubungi bidan :
1)
Bayi sulit bernafas
2)
Warna kulit dan mata kuning
3)
Pernafasan lebih dari 60 x / menit
4)
Kejang
5)
Pendarahan
6)
Demam
Kegawatan
bayi 7 hari pertama masa nifas
yang membutuhkan perawatan bidan /
dibawah kesarana pelyanan kesehatan secepatnya :
1)
Hypothermia
2) Pucat
/ kurang aktif
3) Diare
/ konstipasi
4) Kesulitan
dalam menetek
5) Mata
merah dan bengkak / nanah
6) Merah
pada tali pusat / tercium bau
- Rujukan
Rujukan
dalam kondisi optimal dan tepat waktu kepfasilitas rujukan / fasilitas yang
memiliki sarana lebih lengkap, diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan
bayi baru lahir. Meskipun sebagian besar ibu akan mengalami persalinan
normal namun 10 sampai 15 % diantaranya akan mengalami masalah selama proses persalinan
dan kelahiran bayi sehingga perlu dirujuk kefasilitas kesehatan rujukan. Sangat
sulit untuk menduga kapan penyakit akan terjadi sehingga kesiapan untuk merujuk
ibu dan atau bayinya kefasilitas kesehatan rujukan secara optimal dan tepat
waktu (jika penyulit terjadi) menjadi saran bagi keberhasilan upaya
penyelamatan, setiap penolong persalinan
harus mengetahui lokasi fasilitas rujukan yang mampu untuk menatalaksana kasus
gawat darurat obstetri dan bayi baru lahir seperti :
1)
Pembedahan termasuk bedah sesar
2)
Transfuse darah
3)
Persalinan
menggunakan ekstraksi fakum / cunam
4)
Pemberian anti biotik intravena
5)
Resusitasi bbl dan asuhan lanjutan bbl
Informasi
tentang pelayanan yang tersedia ditempat rujukan, ketersediaan pelayanan purna
waktu, biaya pelayanan dan waktu serta jarak tempuh ketempat rujukan dadlah
wajib untuk diketahui oleh setiap penolong persalinan
jika terjadi penyulit, rujukan akan melalui alur yang singkat dan jelas. Jika
ibu bersalin / BBL dirujuk ketempat yang tidak sesuai maka mereka akan
kehilangan waktu yang sangat berharga untuk menangani penyakit untuk komplikasi
yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka pada saat ibu melakukan kunjungan
antenatal,jelaskan bahwa penolong akan selalu berupaya dan meminta bekerja sama
yang baik dari suami / keluaga ibu untuk mendapatkan layanan terbaik dan bermanfaat
bagi kesehatan ibu dan bayinya,termasuk kemungkinan perlunya upaya rujukan pada
waktu penyulit,seringkali tidak cukup waktu untuk membuat rencana rujukan dan
ketidaksiapan ini dapat membahayakan keselamatan jiwa ibu dan bayinya. Anjurkan
ibu untuk membahas dan membuat rencana rujukan bersama suami dan keluarganya.
Tawarkan agar penolong mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan suami dan
keluarganya untuk menjelaskan tentang perlunya rencana rujukan apabila
diperlukan. Masukan persiapan-persiapan dan informasi berikut kedalam rencana
rujukan :
1)
Siapa yang akan menemani ibu dan BBL
2)
Tempat-tempat rujukan mana yang lebih disukai ibu
dan keluarga? (jika ada lebih dari satu kemungkinan tempat rujukan, pilih
tempat rujukan yang paling sesuai berdasarkan jenis asuhan yang diperlukan).
3)
Sarana transportasi yang akan digunakan dan siapa
yang akan mengendarainya ingat bahwa transportasi harus segera tersedia, baik
siang maupun malam.
4)
Orang yang ditunjuk menjadi donor darah jika
transfuse darah diperlukan.
5)
Uang yang disisihkan untuk asuhan medik,
transportasi, obat-obatan dan bahan-bahan.
6)
Siapa yang akan tinggal dan menemani anak-anak
yang lain pada saat ibu tidak dirumah.
Kaji
ulang rencana rujukan dengan ibu dan keluarganya. Kesempatan ini harus
dilakukan selama ibu melakukan kunjungan asuhan antenatal / diawal persalinan
(jika mungkin). Jika ibu belum membuat rencana rujukan selama kehamilannya,
penting untuk dapat mendiskusikan rencana tersebut dengan ibu dan keluarganya
diawal persalinan.
Jika timbul masalah pada saat persalinan
dan rencana rujukan belum dibicarakan maka sering kali sulit untuk melakukan
semua persiapan-persiapan secara cepat. Rujukan tepat waktu merupakan unggulan
asuhan saying ibu dalam mendukung keselamatan ibu dan BBL. Singkatan BAKSOKU
dapat digunakan untuk mengingat hal-hal penting dalam mempersiapkan rujukan
untuk ibu dan bayi.
B (Bidan)
:
pastikan
bahwa ibu dan bayi baru lahir didampingi oleh penolong persalinan
yang kompeten untuk menatalaksana gawat darurat obstetri dan BBL untuk dibawah
kefasilitas rujukan.
A
(Alat) :
bawa
perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan,
masa nifas
dan BBL (tabung suntik, selang iv, alat resusitasi, dll) bersama ibu ketempat
rujukan. Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ibu
melahirkan dalam perjalanan menuju fasilitas rujukan.
K
(Keluarga) :
beri
tahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu dan bayi dan mengapa ibu
dan bayi perlu dirujuk. Jelaskan pada mereka alas an dan tujuan merujuk ibu
kefasilitas rujukan tersebut. Suami / anggota keluarga yang lain harus menemani
ibu dan BBL hingga kefasilitas rujukan.
S (Surat) :
berikan
surat ketempat rujukan. Surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu
dan BBL, cantumkan alas an rujukan dan uraikan hasil penyakit, asuhan /
obat-obatan yang diterima ibu dan BBL. Sertakan juga partograf yang dipakai
untuk membuat keputusan klinik.
O
(Obat) :
bawa
obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu kefasilitas rujukan. Obat-obatan
tersebut mungkin diperlukan selama diperjalanan.
K
(Kendaraan) :
siapkan
kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu dalam kondisi cukup
nyaman. Selain itu, pastikan kondisi kendaraan cukup baik untuk mencapai tujuan
pada waktu yang tepat.
U
(Uang) :
ingatkan
keluarga agar membawah uang dalam jumlah yang cukup untuk membeli obat-obatan
yang diperlukan dan bahan-bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan
bayi baru lahir tinggal difasilitas rujukan.
3.
Penyuluhan gzi dan keluarga berencana
a. Penyuluhan
Gizi Ibu Hamil
Berat
badan ibu hamil harus memadai, bertambah sesuai dengan usia kehamilan.
Berat badan yang bertambah dengan normal, menghasilkan anak yang normal.
Kenaikan berat badan ideal pada ibu hamil sebanyak 7 kg (untuk ibu yang gemuk)
dan 12,5 kg (untuk ibu yang tidak gemuk). Di luar batas itu, dinilai abnormal.
Dalam 3 bulan pertama, berat badan ibu hamil akan naik sampai 2 kg. Kemudian,
dinilai normal jika setiap minggu berat badan naik 0,3 kg. Pada kehamilan
tua, rata-rata kenaikan berat badan ibu akan mencapai 12 kg. Jika kenaikan
berat badan lebih dari normal, akan berisiko mengalami komplikasi preeklamsia
dan janin terlalu besar sehingga menimbulkan kesulitan persalinan. Demam tinggi pada masa nifas.
Pada masa nifas,
selama 42 hari setelah melahirkan, ibu yang mengalami demam tinggi lebih dari 2
hari, dan disertai keluarnya cairan (dari liang rahim) yang berbau, mungkin
mengalami infeksi jalan lahir. Cairan Hang rahim yang tetap berdarah, keadaan
ini dapat mengancam keselamatan ibu. Zat makanan yang dibutuhkan ibu hamil,
yaitu:
1)
Energi, dihasilkan dari karbohidrat, protein, dan
zat patinya. Protein. Ibu hamil membutuhkan protein lebih banyak dari
biasanya.
2)
Protein hewani lebih besar dibandingkan protein
nabati. Contoh: ikan, daging, susu, dan telur harus lebih banyak dikonsumsi
jika dibandingkan dengan tahu, tempe, dan kacang. Protein dapaa diperoleh dari
susu, telur, dan keju. Tambahannya diperoleh dan gandum dan kacang-kacangan.
Manfaat dari protein.
3)
Vitamin.
Ada
beberapa jenis vitamin yang penting untuk ibu hamil. Jika ibu hamil sampai
kekurangan vitamin, pembentukan sel-sel tubuh anak akan berkurang. Anak dapat kurang
darah, cacar bawaam kelainan bentuk, bahkan ibu dapat keguguran. Vitamin yang
dibutuhkan oleh ibu hamil, yaitu B6, C, A, D, E, dan K.
4)
Kalsium, Mineral dan Zat lainnya
a)
Kalsium. Kalsium sangat penting karena dibutuhkan
untuk pembentukan tulang. Apabila kekurangan kalsium, bayi yang dikandung
akan menderita kelainan tulang dan gigi. Sumber kalsium yang tinggi diperoleh
dari semua makanan yang berasal dari susu. seperti keju, es krim, dan kue.
Selain itu, juga banyak terdapat pada kacang-kacangan dan sayuran berdaun
hijau.
b)
Fosfor. Mineral ini dapat diperoleh dari makanan
sehari-hari. Fosfor berhubungan erat dengan kalsium. Jika jumlahnya tidak
seimbang di dalam tubuh, dapat terjadi gangguan. Gangguan yang paling sering
adalah kram pada tungkai.
c)
Zat besi. Sel darah merah Ibu hamil bertambah
sampai 30rc. Berarti, tubuhnya memerlukan tambahan zat besi. Setiap hari. ibu
hamil membutuhkan tambahan 700-800 mg zat besi. Sumber makanan yang mengandung
zat besi tinggi adalah hati. Oleh karena itu, ibu hamil perlu banyak
mengonsumsi hati, daging. telur, kacang-kacangan, dan sayuran berwarna hijau.
Kebutuhan zat besi ibu hamil meningkat pada kehamilan
trimester II dan III. Pada masa tersebut, kebutuhan zat besi tidak dapat
diandalkan dari menu harian saja. Walaupun menu hariannya cukup mengandung zar besi.
d)
Zink, mineral, ini dibutuhkan dalam jumlah yang
sangat kecil, biasanya cukup dari makanan sehari-hari
e)
Fluor. Mineral floyr juga tidak banyak
diperlukan.
f)
Yodium. Yosidum cukup diperoleh dari air minum
dan sumber bahan makanan laut.
b. Penyuluhan
KB
Sebelum
pemberian metode kontrasepsi, misalnya pil, suntik, atau KDR terlebih dahulu
menentukan apakah ada keadaan yang membutuhkan perhatian khusus. Salah satu
usaha untuk menciptakan kesejahtreraan adalah dengan memberi nasihat
perwakinan, pengobatan kemandulan, dan memperkecil angka kelahiran (Depkes RI
1999). Program KB
adalah bagian yang terpadu dalam program pembangunan nasional dan bertujuan
untuk turut serta menciptak~ kesejahteraan ekonomi, spiritual, dan sosial
penduduk Indonesia. Tujuan program KB adalah memperkecil
angka kelahiran, menjaga kesehatan ibuanak, serta membatasi kehamilan
jika jumlah anak sudah mencukupi. Peserta KB akan mendapat pelayanan
dengan cara sebagai berikut.
1)
Pasangan usia subur yang istrinya mempunyai
keadaan “ 4 terlalu” yaitu terlalu muda,
terlalu banyak anak, terlalu sering hamil, dan terlalu tua akan mendapat
prioritas pelayanan KB.
2)
Peserta KB diberikan pengertian
mengenai metode kontrasepsi dengan keuntungan dan kelemahan masing-masing
sehingga ia dapat : menentukan pilihannya.
3)
Harus mendapat informasi mengenai metode
kontrasepsi dengan keuntungan dan kelemahannya sehingga ia dapat menentukan
pilihannya
4)
Harus dilakukan pemeriksaan fisik sebelum
pelayanan KB
diberikan kepada klien agar dapat ditentukan metode yang paling cocok dengam
hasil pemeriksaannya.
5)
Harus mendapatkan informasi tentang
kontraindikasi pemakai. berbagai metode kontrasepsi.
4.
Pencatatan Kelahiran Dan Kematian Ibu/ Bayi
a.
Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka
kematian bayi (AKB) di
Indonesia dari tahun 1967 sampai dengan tahun 1996 menunjukkan kecenderungan
menurun. Estimasi AK yang dilakukan Biro Pusat Statistik adalah berdasarkan
perhitungan dari data hasil sensus/survei (tentang rata-rata yang dilahirkan
hidup menurut ibu).
Pada
kurun waktu tahun 1967-1976 (9 tahun), penurunan AKB ratarata per tahun
adalah 3,2%, yaitu 145 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1967, menjadi 109
per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1976. Untuk periode 1986-1992, penurunan AKB rata-rata per tahun
adalah 4,1% yaitu 71 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 60 per
1000 kelahiran hidup pada tahun 1992. Dari hasil proyeksi, terlihat bahwa AKB pada tahun 1992 sebesar
60 per 1000 kelahiran hidup yang cenderung menurun menjadi 54 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 1996. Berdasarkan jenis kelamin, terlihat bahwa
angka kematian pada bayi laki-laki tampaknya lebih besar dibandingkan bayi
perempuan.
Pola
penyakit penyebab kematian bayi dari SKRT tahun 1986 berbeda dengan hasil SKRT
tahun 1992. Perbedaan proporsi antara tahun 1986 dan 1992 ini mungkin
disebabkan oleh cakupan sampel SKR.T 1986 yang hanya mencakup 7 provinsi,
sedangkan pada tahun 1992 mencakup 37 provinsi. Proporsi penyakit penyebab
kematian pada bayi hasil SKRT ,ahun 1986 yang tertinggi adalah penyakit tetanus
neonatorum (19,3%), sedangkan hasil SKRT 1992 adalah penyait ISPA (36%). Jika
dibanding~an hasil SKRT 1992 dengan hasil SKRT 1995, penyakit sistem
pernapasan menduduki urutan pertama, sedangkan gangguan pranatal naik dari
.irutan kelima pada SKRT 1992 dan menjadi urutan kedua pada SKRT :995. Jika
dibandingkan pola penyakit penyebab kematian bayi antara lawa-Bali dan luar
Jawa-Bali, terlihat urutan tertinggi di Jawa-Bali cisebabkan gangguan pranatal
(33,5%), sedangkan di luar Jawa-Bali cisebabkan penyakit sistem pernapasan.
b.
AngkaKematian Balita (AKABA)
Angka
kematian balita (0--4 tahun) adalah jumlah kematian anak usia C-4 tahun per
1000 kelahiran hidup. AKABA menggambarkan tingkat perm asalahan kesehatan anak
dan faktor lain yang berpengaruh terhadap keseatan anak balita, seperti gizi,
sanitasi, penyakit menular, dan kecelakaan.
Estimasi
angka kematian balita di Indonesia yang dihitung dari data iro Pusat Statistik,
mengalami penurunan yang cukup berarti, yaitu an 111 per 1000 kelahiran hidup
pada tahun 1986 menjadi 81 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1993. Angka
kematian balita tertinggi d Provinsi Nusa Tenggara Barat (162 per 1000
kelahiran hidup), sedangkar Provinsi DKI Jakarta (4 per 1000 kelahiran
hidup.
Hasil
SKRT 1995 menunjukkan 5 penyakit penyebab kematian. anak balita, yaitu sistem
pernapasan (30,8%), gangguan pranatal (21,6%), diare (15,3%), infeksi dan
parasit lain (6,3%), dan saraf (tetanus) (5,5%).
c.
Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka
kematian ibu berguna untuk menggambarkan tingkat kesa daran perilaku hidup
sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatar lingkungan, dan tingkat
pelayanan kesehatan (terutama untuk ibu hamil ibu waktu melahirkan, dan masa nifas).
Angka kematian ibu sampai saal ini baru diperoleh dari survei terbatas seperti
penelitian dan pencatatar pada 12 rumah sakit pendidikan (1977-1980) diperoleh
AKI 370 per 100.00( kelahiran hidup. Penelitian oleh Universitas Padjadjaran di
Ujung Berun€ (1978-1980) AKI 170, dan di Kabupaten Sukabumi tahun 1982 sebesar
450 dan hasil SKRT 1980 adalah 150 per 100.000 kelahiran hidup. Hasil in
relatif rendah karena survei tidak mencakup semua provinsi. Menurut hasi: SKRT
tahun 1992, angka kematian ibu sebesar 425 per 100.000 kelahirar hidup. Hasil
survei demografi Kesehatan Indonesia tahun 1994 menunjuk kan angka 390 per
100.000 kelahiran hidup, sedangkan pada hasil SKRZ 1995, angka kematian ibu
sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup.
d.
Angka Kematian Kasar (AKK)
Dari
hasil sensus tahun 1971 dan 1980, SUPAS tahun 1967 dan 1985 terlihat bahwa
angka kematian kasar cenderung menurun dan menurut hasil perkiraan BPS angka
kematian kasar (AKK) pada kurun waktL 1985-1990 akan menjadi 7,9 per 1000
penduduk dan selanjutnya pade kurun waktu 1990-1995 menjadi sebesar 7,5 per
1000 penduduk. Penyakit penyebab kematian per 100 kematian hasil SKRT 1986 se.
bagai urutan pertama adalah penyakit diare sebesar 12 per 1000 kema. tian,
sedangkan dari hasil SKRT 1992 dan SKRT 1995 adalah penyakit sistem sirkulasi,
yaitu sebesar 16 per 100 kematian tahun 1992 menjad 18,9 per 100 kematian tahun
1995. Sementara itu, dari hasil SKRT 1991: untuk daerah Jawa-Bali menunjukkan
bahwa penyakit kematian utama adalah sistem sirkulasi (24,2 per 100 kematian).
Penyakit sistem sirkulasi ini mencakup hipertensi, penyakit jantung iskemia,
penyakit paru yang berkaitan dengan jantung, komplikasi penyakit jantung yang
kausanya tidak jelas, dan penyakit serebrovaskular. Untuk daerah luar
Jawa-Bali, menunjukkan bahwa penyakit penyebab kematian utama adalah sistem
pernapasan (16,0 per 100 kematian) yang diikuti penyakit sistem sirkulasi
(14,3 per kematian) dan tuberkulosis (10,9%). Untuk tahun 1995, pola penyakit
penyebab kematian bukan penyebab langsung secara nasional, berbeda dengan pola
penyakit penyebab kematian pada rumah sakit umum kelas A, B, C maupun D. Secara
nasional dan menurut rumah sakit umum kelas B, penyakit serebrovaskular
merupakan penyebab utama kematian. Pada rumah sakit umum kelas A, penyakit
karena cedera dan keracunan merupakan penyebab utama, sedangkan pada rumah
sakit umum kelas C dan D, penyebabnya adalah penyakit saluran napas bawah. Jika
dilihat pola penyakit pada tahun 1995, penyakit utama yang terbanyak secara
nasional bukan merupakan penyebab utama yang mendasari kematian. Untuk kasus
penyakit terbanyak secara nasional, yaitu penyakit infeksi usus, penyakit
karena cedera, dan keracunan di rumah sakit umum kelas A, komplikasi obstetri
dan abortus di rumah sakit umum kelas B, sedangkan di rumah sakit umum kelas C
dan D sama dengan tingkat nasional, yaitu penyakit infeksi usus.



0 komentar:
Posting Komentar