Pengertian
Diabetes
melittus merupakan kelainan metabolisme yang kronis terjadi defisiensi insulin
atau retensi insulin, di tandai dengan tingginya keadaan glukosa darah
(hiperglikemia) dan glukosa dalam urine (glukosuria) atau merupakan sindroma
klinis yang ditandai dengan hiperglikemia kronik dan gangguan metabolisme
karbohidrat, lemak dan protein sehubungan dengan kurangnya sekresi insulin
secara absolut / relatif dan atau adanya gangguan fungsi insulin.
Dalam
kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang menunjang
pemasukan makanan bagi janin serta persiapan menyusui.Glukosa dapat difusi secara
secara tetap melalui plasenta pada janin sehingga kadarnya dalam darah janin
hampir menyerupai kadar dalam darah ibu.Insulin ibu tidak dapat mencapai janin
sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar dalam janin. Pengendalian yang
utama dipengaruhi oleh insulin, disamping beberapa hormon lain yaitu estrogen,
steroid, plasenta laktogen.Akibat lambatnya resorpsi makanan maka terjadi
hiperglikemia yang relatif lama dan menuntut kebutuhan insulin. Menjelang aterm
kebutuhan insulin meningkat mencapai 3 kali dari keadaan normal yang disebut:
tekanan diabetogenik dalam kehamilan. Secara fisiologis telah terjadi retensi
insulin yaitu bila ditambah dengan estrogen eksogen ia tidak mudah menjadi
hipoglikemia. Yang menjadi masalah bila seorang ibu tidak mampu meningkatkan
produksi insulin sehingga relatif hipoinsulin yang mengakibatkan hiperglikemia
/ diabetes kehamilan. Retensi insulin juga disebabkan oleh adanya hormon
estrogen, progesteron, kortisol, prolaktin dan plasenta laktogen yang
mempengaruhi reseptor insulin pada sel sehingga mengurangi afinitas insulin.
B. Klasifikasi
1.
DM
Tipe 1 (IDDM) Insulin dependent diabetes mellitus atau tergantung insulin (T1)
yaitu kasus yang memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula darah.
2.
DM
Tipe 11 (NIDDM) Non insulin dependent diabetes mellitus atau tidak tergantung
insulin (TT1) yaitu kasus yang tidak memerlukan insulin dalam pengendalian
kadar gula darah.
3.
Diabetes
tipe lain.
4.
Diabetes
mellitus gestasional (DMG) yaitu diabetes yang hanya timbul dalam kehamilan.
C. Etiologi
Etiologi Diabetes Melitus menurut
Kapita Selekta Jilid III, 2006, Yaitu :
1.
Genetik
2.
Faktor
autoimun setelah infeksi mumps, rubella dan coxsakie B4.
3.
Meningkatnya
hormon antiinsulin seperti GH, glukogen, ACTH, kortisol, dan epineprin.
4.
Obat-obatan.
D.
Patogenesis
1.
Pada
penyakit DM 1 didapat kerusakan (dekstruksi) sel beta pankreas dengan akibat
menurunnya produksi insulin penggunaan glukosa sebagai energi terganggu
tubuh menggunakan lemak dan protein sebagai sumber energi. Metabolisme tidak
sempurna ketosis dan ketoasidosis.
2.
Pada
penyakit DM 11 didapat retensi insulin fungsi insulin menurun. Resistensi
insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa
oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta
tidak mampu mengimbangi resistensi ini sepenuhnya sehingga terjadi defisiensi
relatif insulin.
Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrindan
karbohidrat sehingga terjadi inadekuatnya pembentukan dan penggunaan insulin
yang berfungsi memudahkan glukosa berpindah ke dalam sel-sel jaringan. Tanpa
insulin yang adekuat, glukosa tidak dapat memasuki sel-sel untuk digunakan
sebagai sumber energi dan tetap berada dalam daerah sehingga kadar glukosa
darah meningkat di atas batas normal yang menyebabkan air tertarik dari sel-sel
ke dalam jaringan/darah sehingga terjadi dehidrasi seluler. Tingginya kadar
glukosa darah menyebabkan ginjal harus mengsekresikannya melalui urine dan
bekerja keras sehingga ginjal tidak dapat menanggulanginya sebab peningkatan
laju filter glonurulus dan penurunan kemampuan tubulus renalif
profesional/renalis untuk mereabsorbsi glukosa. Hal ini meningkatkan tekanan
osmotik dan mencegah reabsorbsi air oleh tubulus ginjal yang menyebabkan
dehidrasi ekstreaoseluler.
Karena
glukosa dan energi dikeluarkan dari tubuh bersama urine, tubuh mulai
menggunakan lemak dan protein untuk sumber energi yang dalam prosesnya
menghasilkan keton dalam darah. Pemecahan lemak dan protein juga menyebabkan
lelah, lemah, gelisah yang dilanjutkan dengan penurunan berat badan mendadak
ditambah terbentuknya keton akan cepat berkembang keadaan koma dan kematian.
E. Tanda dan gejala klinis
Tanda
dan gejala klinis patogenesis Diabetes Melitus menurut Kapita Selekta Jilid
III, 2006, Yaitu sebagai berikut :
1. Polifagia.
8. Mata kabur .
2. Poliuria.
9. Pruritus vulva.
3. Polidipsi.
10. Ketonemia.
4. Lemas.
11. Glikosuria.
5. BB menurun.
12. Gula darah 2 jam pp > 200 mg/dl.
6. Kesemutan.
13. Gula darah sewaktu > 200 mg/dl.
7. Gatal. 14.
Gula darah puasa > 126 mg/dl.
Cara pemeriksaan tes toleransi
glukosa oral (TTGO)
1.
Tiga
hari sebelum pemeriksaan pasien makan seperti biasa.
2.
Kegiatan
jasmani sementara cukup, tidak terlalu banyak.
3.
Pasien
puasa semalam selama 10-12 jam.
4.
Periksa
glukosa darah puasa.
5.
Berikan
glukosa 75 gram yang dilarutkan dalam air 250 ml, lalu minum dalam 5 menit.
6.
Pariksa
glukosa darah 1 jam dan 2 jam sesudah beban glukosa.
7.
Selama
pemeriksaan, pasien yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.
F. Pengaruh diabetes gestasional
Meskipun tanpa gejala, bila tidak diadakan pengendalian kadar
gula maka diabetes mellitus gestasional akan menimbulkan dampak bagi ibu maupun
pada janin.
1.
Pengaruh
DM terhadap kehamilan.
a.
Abortus
dan partus prematurus.
b.
Pre
eklamsia.
c.
Hidroamnion.
d.
Insufisiensi
plasenta.
2.
Pengaruh
DM terhadap janin/bayi.
a.
Kematian
hasil konsepsi dalam kehamilan muda mengakibatkan abortus.
b.
Cacat
bawaan.
c.
Dismaturitas.
d.
Janin
besar (makrosomia)
e.
Kematian
dalam kandungan.
f.
Kematian
neonatal.
g.
Kelainan
neurologik dan psikologik.
G.
Penatalaksanaan
1.
Mangatur
diet.
Diet yang dianjurkan pada bumil DMG adalah 30-35 kal/kg BB,
150-200 gr karbohidrat, 125 gr protein, 60-80 gr lemak dan pembatasan konsumsi
natrium. Penambahan berat badan bumil DMG tidak lebih 1,3-1,6 kg/bln. Dan
konsumsi kalsium dan vitamin D secara adekuat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam diit diabetes mellitus
sebagai berikut:
a.
Diit
DM harus mengarahkan BB ke berat normal, mempertahankan glukosa darah sekitar
normal, dapat memberikan modifikasi diit sesuai keadaan penderita misalnya
penderita DMG, makanan disajikan menarik dan mudah diterima.
b.
Diit
diberikan dengan cara tiga kali makan utama dan tiga kali makanan antara
(snack) dengan interval tiga jam.
c.
Buah
yang dianjurkan adalah buah yang kurang manis, misalnya pepaya, pisang, apel,
tomat, semangka, dan kedondong.
d.
Dalam
melaksanakan diit sehari-hari hendaknya mengikuti pedoman 3J yaitu ;
J1
; Jumlah kalori yang diberikan harus habis.
J2
; Jadwal diit harus diikuti sesuai dengan interval.
J3
; Jenis makanan yang manis harus dihindari.
e.
Penentuan
jumlah kalori
Untuk menentukan jumlah kalori penderita DM yang hamil/menyusui
secara empirik dapat digunakan umus sebagai berikut ;
( TB – 100 ) x 30 T1 + 100 T3 + 300
T2 + 200 L
+ 400
Ket : TB :
Tinggi badan. T3 : Trimester III
T1 :
Trimester I L : Laktasi/menyusui
T2 : Trimester
II
2.
Penatalaksanan
Diabetes Melitus terhadap ibu hamil menurut Kapita Selekta, Jilid II, 2006.
yaitu sebagai berikut :
Daya
tahan terhadap insulin meningkat dengan makin tuanya kehamilan, yang dibebaskan
oleh kegiatan antiinsulin plasenta. Penderita yang sebelum kehamilan sudah
memerlukan insulin diberi insulin dosis yang sama dengan dosis diluar kehamilan
sampai ada tanda-tanda bahwa dosis perlu ditambah atau dikurangi. Perubahan-perubahan
dalam kehamilan memudahkan terjadinya hiperglikemia dan asidosis tapi juga
manimbulkan reaksi hipoglikemik. Maka dosis insulin perlu ditambah/dirubah
menurut keperluan secara hati-hati dengan pedoman pada 140 mg/dl. Pemeriksaan
darah yaitu kadar post pandrial < 140 mg/dl
Terutama pada trimester I mudah terjadi hipoglikemia apabila
dosis insulin tidak dikurangi karena wanita kurang makan akibat emisis dan
hiperemisis gravidarum. Sebaliknya dosis insulin perlu ditambah dalam trimester
II apabila sudah mulai suka makan , lebih-lebih dalam trimester III.
Selama berlangsungnya persalinan dan dalam hari-hari berikutnya
cadangan hidrat arang berkurang dan kebutuhan terhadap insulin barkurang yang
mengakibatkan mudah mengalami hipoglikemia bila diet tidak disesuaikan atau
dosis insulin tidak dikurangi. Pemberian insulin yang kurang hati-hati dapat
menjadi bahaya besar karena reaksi hipoglikemik dapat disalah tafsirkan sebagai
koma diabetikum. Dosis insulin perlu dikurangi selama wanita dalam persalinan
dan nifas dini. Dianjurkan pula supaya dalam masa persalinan diberi infus
glukosa dan insulin pada hiperglikemia berat dan keto asidosis diberi insulin
secara infus intravena dengan kecepatan 2-4 satuan/jam untuk mengatasi
komplikasi yang berbahaya.
3.
Penanggulangan
Obstetri
Pada penderita yang penyakitnya tidak berat dan cukup dikuasi
dengan diit saja dan tidak mempunyai riwayat obstetri yang buruk, dapat
diharapkan partus spontan sampai kehamilan 40 minggu. lebih dari itu sebaiknya
dilakukan induksi persalinan karena prognosis menjadi lebih buruk. Apabia
diabetesnya lebih berat dan memerlukan pengobatan insulin, sebaiknya kehamilan
diakhiri lebih dini sebaiknya kehamilan 36-37 minggu. Lebih-lebih bila
kehamilan disertai komplikasi, maka dipertimbangkan untuk menghindari kehamilan
lebih dini lagi baik dengan induksi atau seksio sesarea dengan terlebih dahulu
melakukan amniosentesis. Dalam pelaksanaan partus pervaginam, baik yang tanpa
dengan induksi, keadaan janin harus lebih diawasi jika mungkin dengan
pencatatan denyut jantung janin terus – menerus.



0 komentar:
Posting Komentar